Jumat, 22 April 2011

proposal program tv

PROPOSAL PROGRAM
ACARA DIALOG INTERAKTIF “CAHAYA QOLBU”
SSTV SAMPIT

LATAR BELAKANG
D
alam struktur kehidupan masyarakat yang disibukkan dengan berbagai aktifitas kerja biasanya diikuti pula dengan semakin melemahnya nilai-nilai agama yang tertanam dalam sendi kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat lumrah mengingat aktifitas kerja yang demikian sibuk, menyita waktu dan perhatian tersendiri sehingga tanpa disadari ada bagian lain dari penopang kebahagiaan hidup ini yang terlupakan, yakni bentuk kebahagiaan yang hanya dapat diperoleh dengan ketenangan dan ketentraman spiritual. Itulah bagian peran agama yang seharusnya juga menjadi bagian penting dalam menciptakan keseimbangan hidup antara kebahagiaan material dan kebahagiaan spiritual.
Tentu saja jika aktifitas yang terlalu sibuk tidak diimbangi dengan penguatan nilai-nilai spiritual, maka kondisi kehidupan manusia juga akan mengalami goncangan dan ketidaktentraman. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pelanggaran-pelanggaran sosial (a-susila) yang dilakukan masyarakat dalam banyak bidang kehidupan. Misalnya; kriminalitas, pergaulan bebas, pelanggaran HAM, judi, narkoba, bahkan juga seperti akhir-akhir ini yang banyak terjadi dimasyarakat yakni kasus bunuh diri sebagai akibat kurangnya pegangan hidup karena rendahnya pengetahuan ilmu agama yang dimiliki.
Swara Sampit Televisi (SSTV) sebagai lembaga penyiaran yang berada dilingkup daerah Kotawaringin Timur merasa tergerak untuk menyiarkan program acara dialog keagamaan secara interaktif yang dibingkai dalam acara “CAHAYA QOLBU” sebagai bagian usaha ikut serta mengurangi pelanggaran-pelanggaran sosial melalui penayangan program acara yang bersifat penambahan ilmu pengetahuan seputar keagamaan. Alasan utama terpilihnya program ini adalah mengingat bahwa sebagai kabupaten yang tergolong aktif dalam tingkat pertumbuhan usaha dan perusahaan, masyarakat kotim secara umum hidup dalam tingkat kesibukan yang cukup tinggi dibanding beberapa daerah setingkat kabupaten yang lain. Fenomena ini dapat dilihat dari kesibukan kota sejak pagi hari sampai malam hari. Struktur hidup masyakarat yang sebagian besar bekerja di sektor usaha perdagangan, industri jasa, dan perkebunan, menjadikan masyarakat hidup dalam tingkat kesibukan yang lebih tinggi dibanding dengan daerah dengan mayoritas bekerja sebagai petani.
Akan tetapi, sebagaimana disampaikan dalam paragraf awal, keadaan ini disisi lain juga memiliki efek negatif yang cukup merisaukan jika terus berlarut tanpa diimbangi dengan penguatan nilai-nilai moral keagamaan.
Dengan demikian keberadaan program acara “CAHAYA QALBU” yang dikemas dengan dialog interaktif ini diharapkan mampu menjembatani kekosongan spiritual ditengah kesibukan masyarakat yang ada saat ini.

KONSEP ACARA
P
rogram acara “CAHAYA QOLBU” dikemas secara life interaktif dalam nuansa yang santai, tapi mengena. Santai dimaksudkan bahwa acara ini dilaksanakan dalam tataruang yang nyaman, tidak konservatif dan monoton, dengan mengedepankan ruang dialog yang cair dan saling mengisi. Sedangkan mengena dimaksudkan bahwa meskipun terkesan sangat cair pembahasan tersebut akan difokuskan pada permasalahan yang diangkat dengan diarahkan oleh pemandu acara/Host. Adapun komponen yang akan dilibatkan dalam acara tersebut adalah:
a) Nara Sumber
Nara Sumber adalah seseorang yang ditunjuk untuk membawakan materi dan sebagai rujukan utama dalam dialog interaktif tersebut. Dalam program “CAHAYA QOLBU”, sebagai Nara Sumber akan diambil dari berbagai kalangan yang memiliki kompetensi di bidang pemahaman ilmu keagamaan. Seperti; Ulama, ustadz, akademisi, pimpinan Ormas Islam, pegawai Depag, pegawai Pengadilan Agama dan lainnya.
b) Pemandu Acara /Host
Host adalah seseorang yang ditunjuk sebagai pemandu acara. Host juga akan diambil dari berbagai kalangan yang selain memiliki kemampuan membawakan acara, juga memiliki pemahaman ilmu agama yang cukup. Hal ini dimaksudkan supaya dialog dapat berjalan dengan lancar, cair, dan terarah.
c) Audience
Audience yang akan dilibatkan dalam acara ini adalah pemirsa SSTV yang menyaksikan acara dari rumah dan peserta/penonton yang hadir di Studio.




d) Sistem Interaktif
Acara ini terbagi dalam tiga sesi. Sesi pertama adalah penjabaran/pengantar awal materi yang akan dibawakan oleh Nara Sumber sampai kurang lebih 15 menit. Selanjutnya Host/Pemandu acara akan memberikan ulasan sekedarnya kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yakni dialog yang diawali dari peserta/penonton di Studio sebanyak 2 orang penanya/pemberi komentar. Berikutnya setelah terjadi proses tanya-jawab/tanggapan dan komentar, pada sesi ketiga Host akan membuka ruang dialog atau memunculkan beberapa permasalahan tertait dengan tema kepada pemirsa di rumah. Pemirsa dapat menyampaikan pertanyaan/komentarnya melalui jaringan telepon atau via SMS dengan nomor yang terhubung langsung di Studio.

WAKTU PELAKSANAAN
Program acara “CAHAYA QOLBU” akan dimulai pada tanggal Januari 2010 selama enam bulan sampai Juni 2010 yang disiarkan secara langsung (live) setiap hari Rabu malam (malam Kamis) mulai pukul 19.00 – 20.30 WIB. Bertempat di Studio SSTV Jl. Tidar I No. 1 Sampit.

PENANGGUNG JAWAB ACARA
Penanggung Jawab : Direktur SSTV
Pelaksana Acara : Agus Priadi
Kameraman 1 : Farid Mahyudinoor
Kameraman 2 : Andry Rizky Agustian
Transportasi : Ihsan, S.Sos
Humas dan perlengkapan : Budi Suroto
Pengarah Naskah/script : Khilmi Zuhroni, S.Fil.I
Pengarah lapangan : Noragi Zaini, ST
Tata Busana & Rias : Emy Rahmawati
Operator 1 : Budi Heriyanto, S.Kom
Operator 2 : Rahmat Hidayanto, S.Kom





ANGGARAN BIAYA

No Uraian Volume Satuan Biaya Jumlah
1 2 3 4 5 6
1 Sekretariat
Pembuatan Surat 40 Bundel 5.000 200.000
Penggandaan Proposal 20 Bundel 10.000 200.000
Biaya Listrik 24 tayang 40.000 960.000
2 Fee
Fee Nara Sumber 24 tayang 250.000 6.000.000
Fee Host 24 tayang 150.000 3.600.000
Fee Pelaksana 10 crew 750.000 7.500.000
3 Transportasi 24 tayang 50.000 1.200.000
4 Konsumsi Penonton di Studio 24 tayang 100.000 2.400.000
5 Dekorasi 24 tayang 50.000 1.200.000
6 Hadiah Hiburan 24 tayang 50.000 1.200.000
7 Biaya Busana dan Rias 24 paket 100.000 2.400.000
8 Biaya penayangan 24 kali 80.000 1.920.000
9 Biaya penyusutan alat 24 kali 20.000 480.000
10 Biaya Perizinan Tayang 24 kali 30.000 720.000
11 Biaya Lain-lain 24 tayang 20.000 480.000
Jumlah Rp 30.460.000
Tiga Puluh Juta Empat Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah




BENTUK KERJASAMA/SPONSORSHIP
1. Sponsor Tunggal adalah perusahaan/Instansi/perorangan yang sanggup membiayai 100% dari total biaya yang dianggarkan, atau senilai Rp. 30.460.000,00 (Tiga puluh juta empat ratus enam puluh ribu rupiah). Sponsor Tunggal akan memperoleh ruang promosi berupa :
a. Penayangan Produk/profil instansi/aktifitas perorongan sebanyak 6 kali @ 120 detik selama pelaksanaan program (6 bulan/24 kali tayang), dengan waktu penayangan diawal, pertengahan dan akhir setiap penayangan acara. Penayangan produk/profil/aktifitas dapat berupa rekaman video, foto slide, teks tertulis.
b. Menampilkan logo perusahaan/ profil instansi/aktifitas sebagai backgound selama pelaksanaan program acara.
c. Mendapat ucapan terimakasih yang disampaikan oleh Host dan Nara Sumber pada saat penayangan berlangsung.
d. Design interior menyesuaikan permintaan sponsor, dengan tetap mengacu pada tema yang diangkat.
e. Dapat mengajukan Nara Sumber sejauh memiliki kompetensi di bidang pengetahuan keagamaan.
2. Sponsor Utama adalah perusahaan/Instansi/perorangan yang sanggup membiayai 50% dari total biaya yang dianggarkan atau senilai Rp. 15.230.000,00 (Lima belas juta dua ratus tiga puluh ribu rupiah), dengan ketentuan jika ada perusahaan/Instansi/perorangan yang sanggup menjadi Sponsor Tunggal maka sponsor lain secara otomatis akan dibatalkan. Sponsor Utama akan memperoleh ruang promosi berupa :
a. Penayangan Produk/profil instansi/aktifitas perorongan sebanyak 5 kali @ 120 detik selama pelaksanaan program (6 bulan/24 kali tayang), dengan waktu penayangan diawal, pertengahan dan akhir setiap penayangan acara. Penayangan produk/profil/aktifitas dapat berupa rekaman video, foto slide, teks tertulis.
b. Menampilkan logo perusahaan/ profil instansi/aktifitas sebagai backgound selama pelaksanaan program acara.
c. Mendapat ucapan terimakasih yang disampaikan oleh Host dan Nara Sumber pada saat penayangan berlangsung.
d. Design interior menyesuaikan permintaan sponsor, dengan tetap mengacu pada tema yang diangkat.

3. Sponsor Pendamping adalah perusahaan/Instansi/perorangan yang sanggup membiayai 30% dari total biaya yang dianggarkan atau senilai Rp. 9.138.000,00 (Rp. Sembilan juta seratus tiga puluh delapan ribu rupiah) dengan ketentuan jika ada perusahaan/Instansi/perorangan yang sanggup menjadi Sponsor Tunggal maka sponsor lain secara otomatis akan dibatalkan. Sponsor Pendamping akan memperoleh ruang promosi berupa :
a. Penayangan Produk/profil instansi/aktifitas perorongan sebanyak 3 kali @ 100 detik selama pelaksanaan program (6 bulan/24 kali tayang), dengan waktu penayangan diawal, pertengahan dan akhir setiap penayangan acara. Penayangan produk/profil/aktifitas dapat berupa rekaman video, foto slide, teks tertulis.
b. Menampilkan logo perusahaan/ profil instansi/aktifitas sebagai backgound selama pelaksanaan program acara.
c. Mendapat ucapan terimakasih yang disampaikan oleh Host pada saat penayangan berlangsung.

4. Sponsor Hiburan adalah perusahaan/Instansi/perorangan yang memberikan hadiah-hadiah hiburan kepada pemirsa, dengan ketentuan jika ada perusahaan/Instansi/perorangan yang sanggup menjadi Sponsor Tunggal maka sponsor lain secara otomatis akan dibatalkan. Sponsor Hiburan dapat berupa Voucher belanja, uang, T-shirt, HP, kebutuhan alat rumah tangga, sepatu, sandal dan barang-barang lain yang dianggap pantas menurut ketentuan pelaksana. Sponsor Hiburan akan memperoleh ruang promosi berupa :
a. Dapat menampilkan produk sesuai dengan barang/jasa yang menjadi hadiah hiburan.
b. Mendapat ucapan terimakasih yang disampaikan oleh Host pada saat penayangan berlangsung.




PENUTUP
Demikian proposal ini dibuat sebagai bentuk penawaran kepada pihak perusahaan/ instansi/perorangan yang bersedia melakukan kerjasama sponsorship dalam pelaksanaan prorgam acara “CAHAYA QOLBU”.
Sampit, 10 November 2009
Managemen
Swara Sampit Televisi (SSTV)




khilmi zuhroni
manager program

contoh proposal arsip

A. LATAR BELAKANG
Penulis proposal menempuh Ilmu di Sekolah Kejuruan dengan mengambil program Keahlian Sekretaris. Oleh sebab itu penulis telah mendapat “Tata Persuratan dan Kearsipan”. Penulis telah mencapatkan ilmu pengetahuan tentang hal tersebut baik teori maupun praktek. Untuk itu penulis ingin mencoba mempraktikkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang kesekretariatan yang sesuai dengan program keahlian penulis. Melalui program ini, dapat diketahui berbagai hal tentang tata cara persuratan dan kearsipan baik untuk perkantoran maupun kehidupan sehari-hari.
Tata persuratan dan kearsipan tidak lepas dari roda pemerintahan. Sebab, tata persuratan dan kearsipan merupakan pedoman pelaksanaan jalannya pemerintahan. Semua kegiatan yang menyengkut persoalan kantor/instansi/organisasi, baik pemerintah atau swasta pasti berupa tata persuratan dan kearsipan.
Pengarsipan dokumen yang baik, sistematis dan efisien selalu didambakan insan kantor atau yang menggunakan jasa sekretaris, yang mudah ditemukan kembali. Tata persuaratn dan kearsipan juga diatur dalam perundang-undangan kearsipan yang berlaku di Indonesia. Dalam tata persuratan terdapat surat niaga dan surat dinas.
Tujuan penulis membuat proposal, agar mengetahui lebih jauh bagaimana pelaksanaan dan sistematika persuratan dan kearsipan yang diberlakukan di perkantoran terutama dalam ruang lingkup pengorganisasian di Sekolah Menengan Kejuruan (SMK).

B. KEUNGGULAN DAN FUNGSI TATA PERSURATAN DAN KEARSIPAN
1. Keunggulan dan Fungsi Tata Persuratan
a. Faktor pendukung kesuksesan administrasi suatu kantor, instansi, atau suatu organisasi
b. Sumber keterangan/informasi yang mendukung kelancaran komunikasi antara instansi dan kantor lainnya.
c. Sebagai barometer untuk mengukur maju tidaknya suatu kantor atau instansi yang diukur dari; kerapian, ketelitian, tata persuratannya.
d. Sebagai dasar pengembilan keputusan

2. Keunggulan dan Fungsi Tata Kearsipan
a. Sumber dokumentasi
b. Sebagai alat bukti untuk masa depan dan sekarang
c. Sebagai alat untuk membantu ingatan , instansi, kantor dan organisasi


C. SKEMA/GAMBAR KERJA
1. Surat Niaga
Pengonsepan masam-masam surat niaga


Pengoreksian macam-macam surat niaga

Pengetikan masam-masam surat niaga dan penanda tanganan

Penomoran masam-masam surat niaga dan pengecapan

Pengagendaan macam-macam surat niaga

Pengiriman macam-macam surat niaga

Pengarsipan macam-macam surat niaga


2. Surat Dinas
Pengonsepan masam-masam surat dinas


Pengoreksian macam-macam surat dinas

Penomoran masam-masam surat dinas dan pengecapan


Pengagendaan macam-macam surat dinas


Pengiriman macam-macam surat dinas


Pengarsipan macam-macam surat dinas



D. BAHAN
No. Nama Bahan Spesifikasi Satuan Jumlah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Kertas HVS
Amplop
Karbon
Map Plastik
Map Biasa
Lem
Tepe X
Blangko Konsep Surat
Buku agenda disposisi
Buku lembar disposisi
Kertas HVS berwarna
60 gram
Standart
Folio
Map folio
Map folio
Standart
Standart
Folio
Folio
Folio
60 gram
Lembar
Lembar
Lembar
Lembar
Lembar
Buah
Buah
Lembar
Lembar
Lembar
Lembar
50
20
5
2
2

0
25
2
25
10



E. FASILITAS PERALATAN
Sedangkan fasilitas yang digunakan antara lain di bawah ini !
No. Nama Bahan Spesifikasi Satuan Jumlah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Komputer
Piota/tinta
Disket
Pelubang/porpulator
Staples
Paper clip
Gunting
Mistar
Pencil
Bolpoint
Isi staples
Kalkulator
Bantalan stampel
stempel
Terinstal MS Office
B1C-2100 SP
Eagleate Series
Raax HD-10
Eaglen 24/10
Tempo
Sedang
30 cm
2 B
Pilot
Sedang
10 digit
Disesuaikan
Disesuaikan
Buah
Buah
Buah
Buah
Buah
Biji
Buah
Buah
Buah
Buah
Kotak
Buah
Buah
Buah
1
1
1
1
1
15
1
1
1
1
1
1
1
1

F. A. PROSES KERJA (SISTEMATIKA KERJA)
1. Pembuatan konsep surat (Draft)
2. Pengoreksian konsep surat (menggunakan tanda koreksi)
3. Pengetikan surat
4. Pemnanda tanganan (meminta tanda tangan kepada pimpinan)
5. Memberi cap, nomor surat, dan memasukkan ke amplop
6. Mencatat ke buku agenda
7. Mengirim surat menggunakan buku ekspedisi (ekstern)
8. Arsip/pengarsipan/penyimpanan




B. PROSES PENANGANAN SURAT MASUK
1. Penerimaan surat
2. Pencatatan/penyimpanan (agenda)
3. Pengarahan/penerusan (menggunakan disposisi)
4. Arsip

G. RENCANA ANGGARAN BIAYA
Anggaran biaya yang direncanakan antar lain :
1. Harga Bahan : Rp. 30.900,-
2. Harga Peralatan : Rp. 80.000,-
Rp. 110.000,-

H. SASARAN PASAR/PENGGUNAAN
1. Dunia Industri
2. Pemerintah atau swasta
3. Organisasi

I. JADWAL PELAKSANAAN
No. Keterangan Februari Maret April
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.
2.
3.
4.
5.
Rencana kerja
Gambar kerja
Proses kerja
Laporan
Presentasi/verifikasi
X
X

X

X
X


X


X


X
X



X





X





X





DAFTAR HARGA BAHAN
No. Nama Barang Satuan Jumlah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Kertas HVS
Amplop
Karbon
Map Plastik
Map Biasa
Lem
Tepe X
Blangko Konsep Surat
Buku agenda
Buku lembar disposisi
Kertas HVS berwarna
50 lembar
10 lembar
5 lembar
2 lembar
2 lembar
1 buah
1 buah
25 lembar
2 lembar
25 lembar
10 lembar

Rp. 4.000,-
Rp. 2.500,-
Rp. 1.000,-
Rp. 500,-
Rp. 10.000,-
Rp. 1.500,-
Rp. 2.500,-
Rp. 2.500,-
Rp. 400,-
Rp. 2.500,-
Rp. 1.000,-

Rp. 30.900,-

DAFTAR HARGA PELARATAN
No. Nama Bahan Satuan Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13 Piota/tinta
Disket
Pelubang/porpulator
Staples
Paper clip
Gunting
Mistar
Pencil
Bolpoint
Isi staples
Kalkulator
Bantalan stampel
stempel 1 Buah
1 Buah
1 Buah
1 Buah
1 Biji
1 Buah
1 Buah
1 Buah
1 Buah
1 Kotak
1 Buah
1 Buah
1 Buah Rp. 12.500,-
Rp. 5.000,-
Rp. 15.000,-
Rp. 5.000,-
Rp. 1.500,-
Rp. 7.000,-
Rp. 1.500,-
Rp. 1.000,-
Rp. 1.000,-
Rp. 1.000,-
Rp. 12.500,-
Rp. 10.000,-
Rp. 7.500,-

Jumlah Rp. 80.000,-


J. PENUTUP
Demikianlah proposal ini dibuat, atas partisipasi dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih. Semoga acara ini berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Rabu, 13 April 2011

Syair Muh. Iqbal

video
< href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cgdfg%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping">
Lab pe aati hai dua ban kay tamana meri
Zindagi sham’a key surat ho Khudaya meri.
Lab Pay Aati Hai Dua Verse 01
May longing comes to my lips as supplication of mine O Allah!
May like the candle be the life of mine O Allah!
Verse 2:
Dur dunya ka maray dam say andheera ho jaye!
Har jagah meray chamaknay say ujala ho jaye!
Lab Pay Aati Hai Dua Verse 02

May the world’s darkness disappear through the life of mine!
May every place light up with the sparkling light of mine!
Verse 3:
Ho maray dam say younhi meray watan key zeenat
Jis tarah phool say hoti hai chaman ki zenat.
Lab Pay Aati Hai Dua Verse 03
May my homeland through me attain elegance
As the garden through flowers attains elegance.
Verse 4:
Zindgi hoo maray parwanay key surat Ya Rab!
Ilm ki sham’a say ho mujko muhabat Ya Rub!
Lab Pay Aati Hai Dua Verse 04
May my life like that of the moth be, O Allah!
May I love the lamp of knowledge, O Allah!
Verse 5:
Ho mara kaam ghareeboon key himayat kerna
Dard mandoon say za’ieefoon say muhabbat karna.
Lab Pay Aati Hai Dua Verse 05

May supportive of the poor my life’s way be
May loving the old, the suffering my way be.
Verse 6:
Maray Allah! burai say bachana mujhko
Naik jo rah hoo us raah pay chalana mujh ko.
Lab Pay Aati Hai Dua Verse 06
O Allah! Protect me from the evil ways
Show me the path leading to the good ways.
Verse 7:
Lub pay aati hai dua baan key tamana mayri
Zindagee shama ki surat ho Khudaya meree.
Lab Pay Aati Hai Dua Verse 07
May longing comes to my lips as supplication of mine O Allah!
May like the candle be the life of mine O Allah!

ALTERNATIF MODEL PENDIDIKAN YANG BERFOKUS PADA ANAK

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya dapat berkembang optimal dan merasa enjoy melalui masa pendidikannya. Setiap orang tua mengharapkan anak berkembang secara fisik dan psikologis sesuai dengan tahap perkembangannya sehingga mencapai hasil yang optimal. Dengan demikian, memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak merupakan harapan setiap orang tua.

Selama ini di Indonesia kebanyakan orang tua memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan agar anak mendapatkan stimulasi yang tepat. Sistem pendidikan ini memang sudah dipraktekkan selama bertahun-tahun dan memang memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan. Bagaimanapun juga, sebagai sebuah sistem buatan manusia pastilah tidak ada yang sempurna.

Akan tetapi, di sisi lain, banyak pula masyarakat yang tidak mampu memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan karena keterbatasan ekonomi, sulitnya dijangkau baik dari segi transportasi maupun geografis, atau alasan lainnya. Kondisi seperti ini merupakan tantangan bagi kita semua, terutama karena setiap anak berhak atas pendidikan yang layak guna bekal kehidupannya kelak. Kita harus berusaha mencari alternatif model pendidikan anak yang tepat untuk anak-anak dari kelompok masyarakat ini, sehingga tidak tertinggal.

Hal yang juga menarik adalah bahwa pada saat ini mulai banyak orang tua merasa lembaga pendidikan yang ada tak lagi dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Orang tua merasa bahwa metode pengajaran yang dipilih tidak sesuai lagi dengan tahap-tahap pertumbuhan, perkembangan, minat dan kebutuhan anak, sehingga anak-anak tidak merasa nyaman berada di lembaga pendidikan. Sekolah dan pendidiknya dianggap hanya mengejar target kurikulum, sehingga anak-anak dibebani dengan berbagai materi yang tidak sesuai dengan kemampuan atau kebutuhannya. Anak-anak dididik demi memenuhi kurikulum, bukan kurikulum dirancang untuk anak. Anak-anak direnggut kemerdekaannya untuk berkreasi dan berimajinasi. Bahkan, lebih parah lagi kemandirian dan hati nurani anak pun direnggut kebebasannya. Mengapa demikian? Coba kita cermati betul, banyak pendidik yang memberikan hukuman ketika anak berkata jujur. Apa benar? Pasti ini pertanyaan kita selanjutnya. Coba kita amati, ketika anak-anak tidak mengerjakan PR dan dia berkata jujur alasannya, misalnya PR nya terlalu banyak atau terlalu sulit, pasti hukuman yang didapatnya. Akibatnya anak-anak berbohong untuk mendapatkan alasan yang tepat sehingga tidak dihukum, misalnya sakit. Kemudian, orang tua pun jadi ikut mengerjakan PR anaknya atau bahkan anaknya dibuatkan surat keterangan sakit, sehingga anak tidak mendapatkan hukuman. Kita mungkin tidak menyadari, bahwa kita telah menanamkan kebiasaan yang sangat buruk pada anak-anak, yaitu mengajarkan ketidakjujuran dan membohongi hati nurani. Efeknya bukan sesaat, tetapi berkepanjangan. Kita mencetak generasi yang tidak jujur. Sungguh sebuah kesalahan fatal. Apa sebenarnya yang telah terjadi dalam sistem pendidikan kita?

Gambaran penerapan pendidikan semacam itu menyebabkan munculnya berbagai ide tentang sekolah yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan anak, yang kemudian memunculkan berbagai sekolah alternatif. Sebagai contoh kemudian muncul sekolah alam yang mengajak anak-anaknya belajar lebih banyak di alam, sehingga tidak terlalu banyak belajar di dalam ruangan yang serba kaku dan tertutup. Anak-anak lebih banyak diajak berkreasi dan mengenal alam lebih dekat, sehingga mencoba mengembalikan dunia anak-anak yang dekat dengan alam. Sekolah alam dirancang sedemikian rupa sehingga menyenangkan anak. Kegembiraan dan kebebasan bereksplorasi menjadi alat utama untuk mendidik anak.

Setelah itu, kemudian muncul alternatif lainnya yang membebaskan anak didiknya untuk belajar apa saja sesuai dengan minatnya. Di sekolah ini tidak ada kelas seperti halnya di sekolah formal. Pendidik hanya berfungsi membimbing dan mengarahkan minat anak-anak dalam mata pelajaran yang disukainya. Di samping itu juga masih banyak sekolah alternatif lain yang mempunyai metode pelajaran sendiri. Dari berbagai alternatif sekolah itu kemudian muncullah sekolah rumah atau homeschooling.

Homeschooling memungkinkan anak belajar sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Di samping itu juga memungkinkan anak belajar dengan menyenangkan karena suasana dibuat sedemikian rupa sehingga anak merasa aman dan nyaman. Feeling at home itulah yang dibangun. Lalu, bagaimana dengan legalitasnya? Homeschooling adalah bentuk pendidikan yang legal, karena homeschooling adalah salah satu model belajar bagi anak-anak.

Homeschooling bukan berarti tidak belajar. Sekolah bukan satu-satunya tempat belajar anak dan cara anak untuk mempersiapkan masa depannya. Keberadaan homeschooling memiliki dasar hukum yang jelas di dalam UUD 1945 maupun di dalam Undang-Undang No. 20/2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Sekolah disebut jalur pendidikan formal, homeschooling disebut jalur pendidikan informal. Siswa homeschooling dapat memiliki ijazah sebagaimana siswa sekolah dan dapat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi manapun jika menghendakinya.

Mengingat bahwa setiap anak dilahirkan dengan bakat dan kemampuan yang istimewa serta kepandaian yang unik, homeschooling dapat menjadi salah satu cara untuk menghormati keistimewaan anak dan potensinya untuk berkembang, karena pada pelaksanaannya, homeschooling dapat disesuaikan dengan gaya belajar, minat, kesiapan dan kecerdasan masing-masing anak.

Bagaimanapun juga, memang tidak ada sistem pendidikan yang sempurna, dan pada kondisi saat ini, homeschooling dapat menjadi alternatif pilihan yang rasional bagi orang tua. Yang paling utama adalah kita dapat memberikan pendidikan yang sesuai dengan dunia, kebutuhan dan minat anak, sehingga seluruh potensi yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal

STRATEGI PEMASARAN DAN PENGENDALIAN MUTU PRODUK

Pendahuluan
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial di mana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Definisi ini berdasarkan pada konsep inti, yaitu : kebutuhan, keinginan dan permintaan; produk, nilai, biaya dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan hubungan; pasar, pemasaran dan pemasar. Adapun tujuan pemasaran adalah mengenal dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk cocok dengannya dan dapat terjual dengan sendirinya. Idealnya pemasaran menyebabkan pelanggan siap membeli sehingga yang tinggal hanyalah bagaimana membuat produknya tersedia. Sedangkan proses pemasaran terdiri dari analisa peluang pasar, meneliti dan memilih pasar sasaran, merancang strategi pemasaran, merancang program pemasaran, dan mengorganisir, melaksanakan serta mengawasi usaha pemasaran.
Strategi pemasaran adalah serangkaian tindakan terpadu menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran adalah
(1) faktor mikro, yaitu perantara pemasaran, pemasok, pesaing dan masyarakat,
(2) faktor makro, yaitu demografi/ekonomi, politik/hukum, teknologi/fisik dan sosial/budaya. Sedangkan strategi dan kiat pemasaran dari sudut pendangan penjual (4 P) adalah tempat yang strategis (place), produk yang bermutu (product), harga yang kompetitif (price) dan promosi yang gencar (promotion). Sedangkan dari sudut pandang pelanggan (4 C) adalah kebutuhan dan keinginan pelanggan (customer needs and wants), biaya pelanggan (cost to the customer), kenyamanan (convenience) dan komunikasi (comunication). Tujuan akhir dan konsep, kiat dan strategi pemasaran adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (“total Customer Statisfaction”). Kepuasan pelanggan sepenuhnya bukan berarti memberikan kepada apa yang menurut kita keinginan dari mereka, tetapi apa yang sesungguhnya mereka inginkan serta kapan dan bagaimana mereka inginkan. Atau secara singkat adalah memenuhi kebutuhan pelanggan.
Ada hubungan erat antara mutu suatu produk dengan kepuasan pelanggan serta keuntungan industri. Mutu yang lebih tinggi menghasilkan kepuasan pelanggan yang lebih tinggi, sekaligus mendukung harga yang lebih tinggi dan sering juga biaya lebih rendah. Eksekutif puncak masa kini melihat tugas meningkatkan dan mengendalikan mutu produk sebagai prioritas utama, sehingga setiap industri tidak punya pilihan lain kecuali menjalankan manajemen mutu total (“Total Quality Management”).

Konsep Pemasaran
1. Kebutuhan , Keinginan dan Permintaan
Ada perbedaan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan. Kebutuhan manusia adalah keadaan dimana manusia merasa tidak memiliki kepuasan dasar. Kebutuhan tidak diciptakan oleh masyarakat atau pemasar, namun sudah ada dan terukir dalam hayati kondisi manusia. keinginan adalah hasrat akan pemuas tertentu dari kebutuhan tersebut. Keinginan manusia dibentuk oleh kekuatan dan institusi sosial. Sedangkan Permintaan adalah keinginan akan sesuatu yang didukung dengan kemampuan serta kesediaan membelinya.
Keinginan menjadi permintaan bila didukung dengan daya beli. Perbedaan ini bisa menjelaskan bahwa pemasar tidak menciptakan kebutuhan; kebutuhan sudah ada sebelumnya. Pemasar mempengaruhi keinginan dan permintaan dengan membuat suatu produk yang cocok, menarik, terjangkau dan mudah didapatkan oleh pelanggan yang dituju.
2. Produk
Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan pelanggan. Pentingnya suatu produk fisik bukan terletak pada kepelikannya tetapi pada jasa yang dapat diberikannya. Oleh karena itu dalam membuat produk harus memperhatikan produk fisik dan jasa yang diberikan produk tersebut.
3. Nilai, Biaya dan Kepuasan
Nilai adalah perkiraan pelanggan tentang kemampuan total suatu produk untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap produk memiliki kemampuan berbeda untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tetapi pelanggan akan memilih produk mana yang akan memberi kepuasan total paling tinggi. Nilai setiap produk sebenarnya tergantung dari seberapa jauh produk tersebut dapat mendekati produk ideal, dalam ini termasuk harga.
4. Pertukaran, Transaksi dan Hubungan
Kebutuhan dan keinginan manusia serta nilai suatu produk bagi manusia tidak cukup untuk menjelaskan pemasaran. Pemasaran timbul saat orang memutuskan untuk memenuhi kebutuhan serta keinginannya dengan pertukaran. Pertukaran adalah salah satu cara mendapatkan suatu produk yang diinginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu sebagai gantinya. Pertukaran merupakan proses dan bukan kejadian sesaat. Masing-masing pihak disebut berada dalam suatu pertukaran bila mereka berunding dan mengarah pada suatu persetujuan. Jika persetujuan tercapai maka disebut transaksi. Transaksi merupakan pertukaran nilai antara dua pihak. Untuk kelancaran dari transaksi, maka hubungan yang baik dan saling percaya antara pelanggan, distributor, penyalur dan pemasok akan membangun suatu ikan ekonomi, teknis dan sosial yang kuat dengan mitranya. Sehingga transaksi tidak perlu dinegosiasikan setiap kali, tetapi sudah menjadi hal yang rutin. Hal ini dapat dicapai dengan menjanjikan serta menyerahkan mutu produk, pelayanan dan harga yang wajar secara kesinambungan.
5. Pasar
Pasar terdiri dari semua pelanggan potensial yang memiliki kebutuhan atau keinginan tertentu serta mau dan mampu turut dalam pertukaran untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan itu. Istilah pasar untuk menunjukan pada sejumlah pembeli dan penjual melakukan transaksi pada suatu produk.
6. Pemasaran dan Pemasar
Pemasaran adalah keinginan manusia dalam hubungannya dengan pasar, pemasaran maksudnya bekerja dengan pasar untuk mewujudkan transaksi yang mungkin terjadi dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Pemasar adalah orang yang mencari sumberdaya dari orang lain dan mau menawarkan sesuatu yang bernilai untuk itu. Kalau satu pihak lebih aktif mencari pertukaran daripada pihak lain, maka pihak pertama adalah pemasar dan pihak kedua adalah calon pembeli.

Dari konsep inti pemasaran maka, ada lima konsep pemasaran yang mendasari cara organisasi melakukan kegiatan pemasarannya.
A. Konsep Pemasaran Berwawasan Produksi
Konsep ini adalah salah satu konsep tertua, yaitu akan memilih produk yang mudah didapat dan murah harganya. Dalam hal ini memusatkan perhatiannya untuk mencapai efisiensi produksi yang tinggi serta cakupan distribusi yang luas. Konsep ini dapat dijalankan apabila permintaan produk melebihi penawarannya dan dimana biaya produk tersebut sangat tingi. Kelemahan konsep pemasaran ini adalah pelayanan tidak ramah dan buruk.
B. Konsep Pemasaran Berwawasan Produk
Konsep ini berpendapat bahwa pelanggan akan memilih produk yang menawarkan mutu, kinerja terbaik dan inovatif dalam hal ini memuaskan perhatian untuk membuat produk yang lebih baik dan terus menyempurnakannya. Industri yang berwawasan ini cenderung tidak memperhatikan keinginan dan kebutuhan dari pelanggan, sehingga divisi pemasaran akan mengalami kesulitan dalam pemasaran.
C. Konsep Pemasaran Berwawasan Menjual
Konsep ini berpendapat bahwa kalau pelanggan dibiarkan saja, pelanggan tidak akan membeli produk industri dalam jumlah cukup sehingga harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif. Konsep ini beranggapan bahwa pelanggan enggan membeli dan harus didorong supaya membeli. Konsep ini sering digunakan pada “ Produk yang tidak dicari” atau tidak terpikir untuk dibeli serta pada industri yang mengalami kelebihan kapasitas produksi.
D. Konsep Pemasaran Berwawasan Pemasaran
Konsep ini berpendapat bahwa kunci untuk mencapai tujuan industri terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien daripada saingannya. Konsep berwawasan pemasaran bersandar pada empat pilar utama, yaitu
1. pasar sasaran,
2. kebutuhan pelanggan,
3. pemasaran yang terkoordinir serta
4. euntungan.
Konsep ini telah dinyatakan dalam banyak cara :
• Memenuhi kebutuhan dengan menguntungkan
• Temukan keinginan dan penuhilah
• Cintailah pelanggan bukan produknya
• Dapatkanlah sesuai kesukaan anda
• Berusaha sekuat tenaga memberikan nilai, mutu dan kepuasan tertinggi bagi uang pelanggan.
E. Konsep Pemasaran Berwawasan Bermasyarakat
Konsep ini beranggapan bahwa tugas industri adalah menentukan kebutuhkan, keinginan serta kepentingan pasar sasaran dan memenuhi dengan lebih efektif serta lebih efisien daripada saingannya dengan cara mempertahankan atau meningkatkan kesejahteraan pelanggan dan masyarakat. Konsep pemasaran bermasyarakat meminta pemasar untuk menyeimbangkan tiga faktor dalam menentukan kebijaksanaan pemasaran, yaitu
1. keuntungan industri jangka pendek,
2. kepuasan pelanggan jangka panjang dan
3. kepentingan umum dalam pengambilan keputusan.
Kepuasan Pelanggan Sepenuhnya (Total Customer Satisfaction)
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Kepuasan pelanggan sepenuhnya dapat dibedakan pada tiga taraf, yaitu:
(1) memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar pelanggan, contoh : Wiraniaga toko daging A menunjukan jenis daging yang dibutuhkan seseorang pelanggan. Ia menanyakan beberapa kg diperlukan, kemudian ditimbang dan dibungkus.
(2) memenuhi harapan pelanggan dengan cara yang dapat membuat mereka akan kembali lagi. Contoh : Wiraniaga toko daging B menunjukan jenis daging yang dibutuhkan seorang pelanggan. Ia menunjukan jenis daging apa yang diperlukan (disesuaikanCdengan masakannya), yang sudah di “aging” atau tidak (dijelaskan keuntungannya), kemudian di timbang diberi es dan dibungkus.
(3) melakukan lebih daripada apa yang diharapkan pelanggan. Contoh : Wiraniaga toko daging C (selain seperti di toko daging B), juga dijelaskan berbagai hal tentang kualitas daging dan perbedaan dari masing-masing jenis daging, jenis kemasan (vacum atau tidak dan selain itu diberikan alternatif daging dari industri yang lain (setengah atau sudah matang). Setelah itu ditimbang, diberi es , dibungkus dan diserahkan sambil tersenyum serta mengucapkan terima kasih.
Dari ketiga taraf diatas, keberhasilan strategi pemasaran dapat dicapai apabila sudah mencapai ketaraf 3, yaitu yang paling memberikan kepuasan kepada pelanggan.
Setiap orang diindustri mempunyai pelanggan yang harus dipuaskannya. Ini yang pertama-tama harus disadari setiap karyawan. Kepuasan pelanggan relevan untuk kita semua, apapun pekerjaan kita, jadi kepuasan pelanggan bukan semata-mata urusan dan tanggung jawab divisi pemasaran dan pelayanan purna jual. Langkah pertama dalam usaha memuaskan pelanggan adalah menentukan dan mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang berbeda dapat pula berlainan kebutuhannya dan juga berbeda perioritasnya, tetapi pada dasarnya kebutuhan-kebutuhan umum hampir sama.
Untuk mencapai kepuasan pelanggan dalam konteks industri diperlukan beberapa kondisi dan usaha, antara lain
(a) filosofi kepuasan pelanggan
(b) mengenal kebutuhan atau harapan pelanggan
(c) membuat standar dan pengukuran kepuasan pelanggan
(d) orientasi karyawan
(e) pelatihan
(f) keterlibatan karyawan dan
(g) pengakuan.
Sedangkan dalam konteks karyawan, ada empat unsur pokok yang harus dimiliki karyawan, yaitu
(a) keterampilan
(b) efisiensi, yaitu target “zero defect” dan tepat waktu “ deadline”
(c) ramah dan
(d) rasa bangga.
Siapa yang Termasuk Pelanggan
Setiap orang adalah pelanggan. Pelanggan adalah setiap orang, unit atau pihak dengan siapa kita bertransaksi, baik langsung maupun tidak langsung dalam penyediaan produk. Pada dasarnya ada dua jenis pelanggan, yaitu Pelanggan Eksternal dan Pelanggan Internal
Pelanggan Eksternal. Pelanggan eksternal adalah orang diluar industri yang menerima suatu produk (end-user). Pelanggan eksternal setiap industri jelas adalah masyarakat umum yang menerima produk industri tersebut. Beberapa hal yang diperlukan pelanggan eksternal adalah
(a) kesesuaian dengan kebutuhan akan produk
(b) harga yang kompetitif
(c) kualitas dan realibilitas
(d) pengiriman yang tepat waktu dan
(e) pelayanan purna jual.
Pelanggan Internal. Pelanggan internal adalah orang yang melakuakan proses selanjutnya dari suatu pekerjaan (“next process”) Pelanggan internal merupakan seluruh karyawan dari suatu industri. Yang diperlukan pelanggan internal adalah
(a) kerja kelompok dan kerjasama,
(b) struktur dan sistem yang efisien,
(c) pekerjaan yang berkualitas dan
(d) pengiriman yang tepat waktu.
Apa yang Terjadi Jika Pelanggan Tidak Puas ?
Pelanggan Eksternal. Hasil studi di Amerika menunjukan hal-hal berikut :
• 90 % Pelanggan yang tidak puas tidak akan membeli lagi produk
• Setiap pelanggan yang tidak puas akan menceritakan kepada paling sedikit 9 orang lain
• Waktu usaha, tenaga dan uang yang diperlukan untuk menarik seseorang pelanggan baru 5 kali lebih banyak daripada untuk mempertahankan seorang pelanggan lama.
• Setiap pelanggan yang puas akan menceritakannya kepada paling sedikit 5 orang lainnya, yang sebagian diantaranya dapat menjadi pelanggan.
Hasil Studi “ National Productivity Board” di Singapura menunjukkan :
- 77 % responden menyatakan tidak akan kembali jika mendapatkan pelayanan yang buruk di restoran, pusat perbelanjaan atau “sevice counter”
- 55 % responden menyatakan akan memberitahukan kepada teman mereka agar tidak belanja atau pergi ketempat tersebut.
Pelanggan Internal Pada umunya, bila karyawan sebagai pelanggan internal tidak puas maka kesalahan yang dibuat akan bertambah, kualitas produk menurun dan biaya industri meningkat. Jika suatu proses produksi telah menyimpang sejak awal, berapa banyak biaya yang harus ditambahkan untuk perbaikan atau penggantian.
Tujuh Langkah Psikologis dalam Mengkonsumsi Produk
Secara psikologis ada tujuh tahap yang dilewati pelanggan sebelum memutuskan membeli suatu produk:
Langkah 1 : Perhatikan
- Calon pelanggan memandang sekejap mata produk yang dipanjang di etalase atau ruang pamer.
Langkah 2 : Minat
- Calon pelanggan menunjukan minat pada produk tertentu dipajang, mencari tahu rancangan, harga dan kualitasnya.
Langkah 3 : Asosiasi Gagasan
- Calon Pelanggan membayangkan dirinya menggunakan produk sesuai dengan iklannya
Langkah 4 : Keinginan
- Jika calon pelanggan ragu-ragu, maka ia akan membandingkan dengan produk lain yang sejenis dan kemudian akan mengevaluasinya terhadap rancangan, harga dan kualitasnya.
Langkah 5 : Kepercayaan
- Keputusan calon pelanggan untuk membeli suatu produk didasarkan atas kepercayaan tumbuhnya rasa kepercayaan dipengaruhi oleh wiraniaga, reputasi industri, merek produk dan kualitas produk
Langkah 6 : Tindakan
- Calon pelanggan membeli produk
Langkah 7 : Kepuasan
- Setelah membeli produk, pelanggan dapat mengalami 2 jenis kepuasan, yaitu kepuasan saat proses pembelian (pelayanan wiraniaga) dan kepuasan menggunakan produk (kualitas)
Ada dua hal yang dapat dipetik dari tujuh langkah psikologi tersebut :
1. Keputusan untuk membeli terjadi karena kebutuhan-kebutuhan pelanggan terpuaskan, mulai dari ruang pamer yang telah mengantisipasi kebutuhan, penyusunannya (display) yang menarik, pelayanan penjualan dan purna jual yang prima serta kualitas produk terpercaya.
2. Setiap karyawan sebenarnya terkait kepada produk dan mempunyai andil untuk memberikan kepuasan pelanggan, mulai dari karyawan produksi sampai wiraniaga.
Bagaimana Mengukur Kepuasan Pelanggan ?
Cara sederhana yang digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu :
a. Sistem Keluhan dan Saran
Industri yang berwawasan pelanggan akan menyediakan formulir bagi pelanggan untuk melaporkan kesukaan dan keluhannya. Selain itu dapat berupa kotak saran dan telepon pengaduan bagi pelanggan. Alur informassi ini memberikan banyak gagasan baik dan industri dapat bergerak lebih cepat untuk menyelesaikan masalah.
b. Survei Kepuasan Pelanggan
Industri tidak dapat menggunakan tingkat keluhan sebagai ukuran kepuasan pelanggan. Industri yang responsif mengukur kepuasan pelanggan dengan mengadakan survei berkala, yaitu dengan mengirimkan daftar pertanyaan atau menelpon secara acak dari pelanggan untuk mengetahui perasaan mereka terhadap berbagai kinerja industri. Selain itu juga ditanyakan tentang kinerja industri saingannya.
c. Ghost Shopping (Pelanggan Bayangan)
Pelanggan bayangan adalah menyuruh orang berpura-pura menjadi pelanggan dan melaporkan titik-titik kuat maupun titik-titik lemah yang dialami waktu membeli produk dari industri sendiri maupun industri saingannya. Selain itu pelanggan bayangan melaporkan apakah wiraniaga yang menangani produk dari industri.
d. Analisa Pelanggan yang Beralih.
Industri dapat menghubungi pelanggan yang tidak membeli lagi atau berganti pemasok untuk mengetahui penyebabnya (apakah harganya tinggi, pelayanan kurang baik, produknya kurang dapat diandalkan dan seterusnya, sehingga dapat diketahui tingkat kehilangan pelanggan.

Rabu, 06 April 2011

THE EDGE OF TOMORROW

THE EDGE OF TOMORROW
(Kisah Perjuangan Seorang Dokter di Perbatasan Laos)

Oleh : Thomas A. Dooley

Copyright 1958 by Thomas A. Dooley, used by Permission of the Publishers, FARRAR, STRAUS AND CUDAHY, Inc.

Diterjemahkan pertama kali oleh Kistari, Penerbit Bhratara, Jakarta,1961

Penyunting :Khilmi Zuhroni




KATA PENGANTAR

Kisah nyata tentang enam orang pemuda Amerika ini terjadi di Laos, suatu negara jauh di benua lain yang keadaannya serba aneh, dengan lambaian bendera serta bunyi-bunyi genta yang gemerincing.
Buku ini bukannya suatu naskah tentang tokoh-tokoh ataupun peristiwa-peristiwa,tiada pula dikandung maksud untuk dijadikan cerita sejarah; kisah ini bukan suatu hasil pengamatan kejadian-kejadian dan bukan pula cerita khayal, melainkan suatu kisah nyata tentang enam orang pemuda Amerika yang dengan sukarela menjalin persahabatan dengan bangsa Laos, demikian pula dengan bangsa-bangsa lain di dunia seperti yang akan dikisahkan dalam buku ini.
Sejak aku masuk sekolah kedokteran, maka kerja Dr. Albert Schweitzer selalu menjadi pendorong bagi kehidupanku. Hatiku bertambah puas oleh karena aku dapat berhubungan surat dengan beliau. Tetapi saat-saat yang benar-benar mengharukan ialah ketika aku mengunjungi beliau sendiri. Tidalah mudah menggambarkan beliau ini. Pada wajahnya nampak perpaduan antara kehalusan perasaan dan keuletan. Selain itu sikapnya sangat ramah dan mengesankan hati. Sungguh kagum aku melihat beliau yang sudah ubanan itu.
Buah pikiran Dr. Schweitzer yang terpenting ialah terbentuknya ikatan anggota relawan pengikut-pengikut yang pernah mengalami penderitaan. Kemanapun kami pergi, aku dan teman-teman selalu menjumpai anggota relawan-relawan ini. Menurut pendapat Dr. Schweitzer, yang menjadi anggota relawan-relawan ini adalah mereka-mereka yang berdasarkan pengalaman dapat merasakan pula perjuangan sakit dan kecemasan. Mereka ini tergabung dalam ikatan rahasia. Barangsiapa sudah sembuh dari sauatu penyakit, jangan hendaknya ia mengira bahwa ia bebas menempuh hidup dan melupakan penyakitnya. Ia harus insyaf dan berkewajiban pula menolong mereka yang sedang berjuang melawan maut dan kecemasan. Ilmu tentang penyembuhan itu harus pula disebarkan pada orang lain.
Tergabung dalam relawan ini tidak hanya mereka yang pernah jatuh sakit, tetapi juga mereka yang berhubungan dengan para penderita yaitu para dokter. Di atas bahu merekalah letak beban tanggung jawab kemanusiaan, yaitu memberi bantuan pengobatan terhadap orang-orang yang tidak mampu di dunia ini. Dr. Schweitzer percaya atas nama Tuhan dan Kemanusiaan, bahwa mereka yang berkecimpung dalam pengobatan dan urusan-urusan orang sakit akan bersedia menjelajahi pelosok-pelosok dunia dan memberi pertolongan.
Karena pekerjaanku termasuk dalam bidang yang sama, maka aku berhasil menjadi anggota relawan itu. Selain diriku, kudapati pula beratus-ratus peminat yang lain. Di seluruh dunia telah banyak yang mendengar rombongan kesehatan kami di Laos.
Ribuan surat telah kami terima, banyak pula yang memberi sumbangan dan sementara orang menyampaikan saran-saran yang berguna. Ada yang dengan suka rela datang membantu kami bahkan seseorang telah mengirimkan bagan tentang Rencana Perberdayaan Masyarakat yang pernah dicobanya 40 tahun yang lalu di pedalaman Afrika Selatan. Mereka tersebut termasuk anggota-anggota ikatan relawan meskipun tidak disadarinya.
Banyaknya sumbangan yang ku terimamenyebabkan aku terharu tetapi kadang-kadang pula aku merasa geli sebab disamping barang-barang sumbangan yang berguna terdapat pula bingkisan-bingkisan yang tiada bernilai. Namun sebagian besar dari kiriman itu sangat tidak terduga dan sangat diperlukan. Hanya ucapan terima kasih sajalah yang dapat kusampaikan atas semua perhatian ini. Bantuan yang mengharukan ialah yang mengalir dari sekolah-sekolah. Kepada belasan sekolah yang telah menyurati dan menawarkan pertolongan, kami sampaikan kepada masing-masing sekolah sebuah proyek yang akan menjadi garapan kami selanjutnya. Franklin School Three di Passaic, New Jersey menyumbang beratus-ratus sabun dari hasil yang dikumpulkan, sedangkan Miss Mary Kennedy, gurunya, meminta agar setiap murid sekolah menulis surat kepadaku. Surat-surat yang kuterima berjumlah kurang lebih 250 pucuk sebulannya, tetapi yang benar-benar menarik adalah surat-surat dari anak-anak Sekolah Rakyat. Seorang anak laki-laki menyurati, bahwa ia tinggal bersama-sama dengan ayahnya di sebuah hotel di New York. Di situ dia pernah berhasil membujuk tukang cuci agar sebuah peti penuh berisi sabun diberikan kepadanya untuk kemudian diteruskan kepada setiap anak yang datang berobat. Memang sabun itu sangat diperlukan di daerah pegunungan Laos, karena di situ sabun tiada dikenal dan tidak ada pula penggantinya.
Freemont Junior High di Anaheim juga mengirimkan sabun kira-kira 500 pon beratnya dan kini semua batang telah habis terpakai. Banyak dokter-dokter dan juru rawat-juru rawat menyampaikan contoh-contoh obat-obatan antibiotik lumayan adanya, tetapi hanya dipergunakan untuk penyakit-penyakit yang aneh.
Seorang juru rawat lain, yaitu Clara Mc Carthy dari St. Barbara mengirim peti obat-obatan hingga lebih dari 30 buah berisikan contoh obat-obatan mulai dari obat muntah-muntah sampai obat pendarahan hidung. Banyaknya penderma-penderma yang menaruh perhatian dalam tugasku semakin membesarkan hatiku.
Beberapa hari setelah Ion mengalami pembedahan (lihat bab VI) kuterima surat dari seorang padri bernama K.I. Rewick dari Punahoe School di Honolulu. Murid-murid Sekolah Menengah dari yayasan tersebut telah menmgumpulkan sejumlah uang dan beberapa ratus dolar diantaranya dikirim padaku. Jumlah ini justeru kami perlukan dan kami tetapkan sebagai ongkos pengobatan serta kain pembalut Ion, olek karena itu kami balas surat mereka dengan mengatakan bahwa Ion adalah pasien mereka. Kemajuan Ion sering kami laporkan dengan mengirimkan gambar-bamgarnya agar Punahoe School dapat mengikuti pula perkembangannya. Walaupun Ion tidak dapat mengucapkan nama sekolah tersebut, tetapi ia tahu dengan pasti bahwa beratus-ratus pemuda-pemudi Amerika benar-benar memperhatikan nasibnya.
Seorang kenalan di kapal yang bernama Larry Aggens sering pergi ke Chicago untuk keperluan dinas. Di sana ia rajin mengadakan ceramah untuk mengumpulkan uang guna kepentingan kami, kecuali saja yaitu ketika terpaksa ia harus dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit mata. Segerasetelah ia keluar, maka dengan matanya yang masih dibalut dan mengenakan baju Hathaway ia kembali menunaikan tugasnya sebagai kepala pengumpul derma untuk rombongan kesehatan Dooley.
Seorang dokter dari Inggris mengirimkan buku-buku kepadakami tentang soal-soal pengobatan di daerah panas. Beberapa orang dokter Amerika juga mengirmkan buku-buku pelajaran pengobatan, sedangkan Mr. Brayton Lewisdari Holliday Book Shop di New York selalu memberitahukan padarombongan Dooley tentang buku-buku yang baru terbit. Setiap bulan kami menerima sebuah dua buah dan bersamaan dengan kiriman “The Saturday Review” dari Helpens kami selalu dapat mengikuti kejadian-kejadian di dunia. Pembantu sekretaris pertahanan, E. Perkins Mc Guire mengirimkan beberapa ratus dolar yang khusus dimaksudkan untuk pembelian obat batuk.
Pada bulan September 1956 ketika rombongan kesehatan itu melalui Hawai dalam perjalanannya ke Laos,mereka menginap pada salah satu hotel mewah di kepulauan Waikiki. Di sana mereka disambut oleh tiga orang wanita yang telah membaca tentang kedatangannya. Wanita-wanita itu bermaksud hendak menjamu. Betapa senangnya rombongankami karena sebelum minta diri, salah seorang penjamu itu menawarkan untuk mengirimkan surat kabarnya ke Laos. Anggota-anggota rombongan kamipun tersenyum sambil menyodorkan alamat. Sejak itu hingga pada saat kami meninggalkan Laos, Nona Spring rajin mengirimkan harian “Honolulu Star Buletin” . Koran-koran itu selalu datang dalam berkas terdiri dari 8 sampai 10 helai sekaligus. Hal ini sangat menggembirakan, karena kami selalu dapat mengikuti berita-beritanya. Terima kasih ibu Nona Spring...
Beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan kapal terbang, aku pernah berjumpa dengan seseorang bernama Bill C. White. Ia bertolak ke Mexico untuk berlibur sehabis belajar giat di sebuah perguruan tinggi. Kami berbicara tentang misi yang kurencanakan,rupanya ia sangat tertarik. Beberapa bulan kemudian setibaku di Laos aku menerima sepucuk surat dari dia berikut bingkisan berisi coklat. Aku gembira sekali menerima surat-suratnya lebih-lebih atas kiriman coklatnya yang lezat. Kubalas suratnya dengan ucapan terima kasih dan ia tetap mengirimkan bingkisan itu.
Agaknya kebaikan dan rasa solidaritas yang sebenarnya dikalangan bangsa Amerika lebih nampak diluar negeridari pada di tanah airnya sendiri. Hal ini mendorong kegiatan kami, sebab dengan itu kami banyak mendapatkan kemudahan terutama masalah ongkos pengobatan. Ketika kami terangkan dari mana asalnya gula-gula,pakaian-pakaian bayi, pensil dan kemeja pendekyang kami bagi-bagikan kepada mereka, timbullah pengertian yang baik terhadap Amerika.
Pada suatu hari kami dapati sebuah bungkusan dalam karung surat-surat, setelah dibuka maka keluarlah permainan anak-anak (berupa binatang dibuat dari kain berisikan kapas), buku-buku gambar, kertas berwarna, pita-pita beraneka warna, peniti dan segala macam benda-benda yang biasa terdapat pada warung kecil. Disamping itu kami dapati pula sebuah surat yang mengatakan bahwa bingkisan itu berasal dari Taman Kanak-kanak Bagian Pagi dan Sore pada Mc Kinley School, Harrisburg, Illinois. Setelah kami jawab suratnya dengan ucapan terima kasih, maka Miss Mildred Walden, gurunya, menerangkan bahwa ia telah mendengar tentang pekerjaan kami. Ia menganggapbahwaTaman Kanak-kanak pun sudah dapat mulai dididik untuk mempunyai tanggung jawab terhadap negara lain,dan kewajiban itu sudah selayaknya dimiliki sejak kecil, karena mereka lahir sebagai bangsa yang merdeka. Aku kagum pada wanita ini atas usahanya meresapkan rasa tanggungjawab dan kepedulian terhadap penderitaan bangsa lain kepada anak-anak. Untuk itu kami tak perlu menyangsikan mutu pendidikan yang diberikan oleh guru semacam dia.
Pada suatu hari aku menerima uang kertas dollar di dalam surat yang berasal dari seorang gadis buta bernama Aurora Lee, yang berdiam di Laos. Ia membaca bukuku “ Lepaskan Kami dari Kejahatan” dari “The Reader Digest” dalam huruf Braille. Ia ingin pula membantu. Setelah menemukan selembar uang dollar Amerika maka laludikirimkannya kepada kami. Nyonya Iva dari Timberville,Virginia, melihat gambar kami tercantum pada sebuah surat kabar.menurut pendapatnya, kami nampakkurang pantas. Oleh karena itu ia mengirimkan dua potong baju dan celana untuk kami masing-masing. Akupun menduga bahwa kami memang kelihatan kurang pantas dalam pakaian kami yang sudah usang.
Penderma-penderma dari Perkumpulan Rotary di Hongkong mengirimkan uang berupa cek, demikian pula penderma-penderma dari Perkumpulan Rotary di Honolulu. Persatuan penduduk Hawai mengirimkan kepada kami kain pembalut seberat 475 pon. Yang mengangkut ke Saigon adalah laksamana Stump untuk kemudian diteruskan kepada kami. Dalam ukuran kubik maka muatan-muatan ini kira-kira sama dengan muatan mobil. Tindakan ini menunjukkan bahwa masyarakat Amerika dapa mengusahakan sesuatu hingga melebihi batas-batas diluar kepentingannya dengan perbuatan-perbuatan yang mulia serta menarik hati.
Sebuah perkumpulan Pemuda Katolik bernama “ The Basilians” di Los Angeles mengabarkan, bahwa mereka akan mengirimkan sesuatu bagi kami berempat. Aku menerangkan bahwa kami akan sangat berterima kasih jika mereka sudi mengirimkan kue Amerika dan sirup buah. Dan sejak itu, selama 16 bulan, setiap minggu kami menerima kiriman seperti kue beserta sirup tadi.
Aku memasuki Notre Dame University pada kira-kira pertengahan tahun 1940. disitu aku mempunyai kenalan baik yang bekerja pada staf, namanya Erma Koyna. Ketika akun di Vietman ia mengirimkan barang-barang ketempat pengungsianku tetapi sewaktu berada di Laos, ada kira-kira sebulan aku tidak menerima surat darinya. Kalau ia tidak memberikan barang-barang itu sendiri maka ia membujuk pedagang-pedagang yang datang ke Universitas agar mereka sudi mengirimkan bingkisan gula-gula, sabun dan lain-lain kepada kami.
Aku berhasil memperpanjang waktu missi hingga 6 bulan diluar rencana oleh karena uangku masih cukup berkat bntuan teman-teman. Berapa ratus jam yang telah digunakan untuk mendoakan Dooley dan rombongannya di dunia ini? Doa inilah yang selalu menjadi cambuk semangat bagi kami.
Aku tahu, bahwa doa ibukulah yang berhasil karena cintanya adalah yang terdekat denganTuhan. Guru-guru, teman-teman, kaum kerabat dan lain-lain selalu menjebut kami dalam doa. Terkenang aku akan biarawati-biarawati Irlandia dari St. John’s Hospital di St. Louis. Aku yakin bahwa di bawah kaki patung Bunda Maria mereka akan mengucapkan: “ Lindungilah Dr. Tom...yang peramah itu.” Biarawati-biarawati Belanda di Clayton Road dan Desloge Hospital juga mengabarkan bahwa merekapun mengirimkan doa untukku. Sekali peristiwa dengan bercanda kuminta agar mereka mendoakan yang jelek-jelek saja untukku, tetepi mereka jawab mereka mendoakan yang baik-baik. Bertahun-tahun aku bekerja dengan biarawati-biarwati tetapi tidak pernah aku dapat menyingkap tabir kehidupan mereka yang penuh rahasia itu. Yang kuingat hanyalah kebaikan hati, sikap yang manis dan nasihat mereka yang halus. Kini ku sadari kekuatan doa mereka.
Dari seorang padri yang baru saja dibebaskan dari perlakuan kejam dipenjara R.R.T dimana tangannya diikat antara dua batu, kuterima sepucuk surat. Dalam itu disebutkan bahwa setiap hari ia mengucapkan memorare doa yang selalu diiringi dengan permohonana berkah Tuhan atas diri kami.
Seorang gadis cilik Yahudi di NewJersey mengatakan, bahwa ia sering mendoakan untukku. Demikian pula seorang padri di Cincinnati taklupa menyebut nama kami dalam doanya sehari-hari. Berapa pelita yang telah dinyalakan di gereja-gereja seluruh dunia untuk doa keselamatan kami ? Dengan pelita-pelita tersebut mereka ucapkan: ” Tuhan, curahkan segala rahmat dan berkah-Mu atas Dooley beserta rombongannya agar tercapai cita-cita mereka...” Kami sangat berterima kasih kepada mereka dan kepada-Nya.
Pada halama-halaman ini aku ingin mengatakan penghargaanku pribadi kepada masing-masing orang dan setiap perkempulan yang telah memberikan bentuan-bantuannya. Sayang sekali tempat tiada mengizinkan untuk menyebut semuanya, hingga aku hanya sempat menyebut beberaoa contoh saja dari simbangan berlimpah-limpah baikyang berupa doa maupun benda. Kami sungguh berutang budi untuk ini semua. Sebaliknya akan kuakhiri halaman ini dengan doa yang mengobarkan semangatku di Laos yang kiranya dapat dijadikan epigraf buku ini:
Give us, Thy worthy childern
The blessings of wisdom and speech
And the hands and hearts of healing
And the lips and tongues that teach...

THOMAS A. DOOLEY, M.D




KUPENUHI JANJIKU
Malam berlalu dengan cepat. Sebuah kapal terbang mewah meluncur jauh di atas lautan pasifik menuju ke barat. Para penumpang meletakkan buku dan tasnya masing-masing kemudian satu demi satu lampupun padamlah. Deru mesin yang menjemukan seakan-akan membuai pelancong-pelancong yang akan menuju ke Honolulu serta pedagang-pedagang yang bertujuan keTokio dan Manila ke alam impian.
Akulah satu-satunya penumpang yang masing terjaga, karena pikiranku penuh dengan kenangan-kenangan yang lebih menguasai kantukku. Sejenak ku pejamkan mata; maka terbayanglah kembali kota Haipong, sebuah tempat pengungsian yang menyedihkan dalam musim semi 1955. Angkatan Laut Amerika menyebut kami “Operasi Cokroach”. Pada operasi itu terdapat seorang dokter serta empat orang juru rawat yang baru saja memperoleh pendidikan beberapa bulan pada sebuah rumah sakit, selebihnya adalah setengah juta bangsa Asia. Mereka melarikan diri dengan badan kotor, sakit, bahkan ada yang cacat.
Itulah sekilas gambaran tentang Vietnam Utara yang lebih dikenal dengan sindiran “Jalan kearah kemerdekaan” dan sejakitu pulalah Dooley mulai tergerak hatinya.
Kejadian ini sudah berulang-ulang ku ceritakan. Tidak hanya pada buku “Lepaskanlah kami dari kejahatan” tetapi juga pada setiap waktu dan tempat dimana saja aku berjumpa dengan orang Amerika yang mau mendengarkannya. Sukurlah cerita ini tiada berlalu dengan sia-sia saja, sebab apa yang kami lakukan di Haipong yang hampir musnah itu tiada seberapa berarti jika dibandingkan dengan ajaran-ajaran yang kami peroleh disana.
Kami telah menyaksikan sendiri betapa perawatan yang dilakukan dengan penuh kasih sayang oleh anak-anak muda yang masih canggung itu dapat merubah sikap rakyat yang semula takut-takut dan benci, menjadi persahabatan dan saling pengertian. Betapa pengaruh bantuan pengobatan itu dapat menyentuh hati nurani suatu bangsa. Kami saksikan pula betapa cita-cita persahabatan yang menjelma menjadi kenyataan itu dapat dipahami oleh masyarakat sederhana. Seakan-akan pengalaman itu memberikan wahyu kepadaku. Di samping itu aku bangga, bahwa selaku seorang dokter Amerika aku mendapat kesempatan menyaksikan besarnya kemungkinan-kemungkinan pengaruh bantuan pengobatan yang diberikan secara sederhana dan sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang kami anut. Itulah barangkali yang menyebabkan perancang-perancang bantuan asing dengan proyek-proyeknya yang menelan jutaan doalar, sulit sekali mengartikannya.
Demikian tekun aku mendoa sehingga kerabatku menjadi gelisah karenanya. “Dooley...” Ujar mereka “Sudah saatnya kau hentikan petualanganmu ! Kapan kau menetap ? “ Ibuku juga memperingatkan aku akan segala sesuatu yang pernah ku inginkan dan yang kini mungkin sudah tercapai, antara lain; mempunyai keluarga, isteri, anak dan siapa tahu barangkali juga memelihara beberapa ekor kuda untuk berburu. Mentorku di sekolah Kedokteran dulu mengatakan, bahwa aku lebih baik melanjutkan pelajaranku jika aku ingin menjadi seorang ahli bedah orthopaedi yang cakap. Bagaimana aku dapat membuktikan mereka bahwa kejadian-kejadian itu tidak akan pernah mengalami peristiwa yang sama?
Maka teringatlah aku akan kalimat-kalimat dalam syair Robert Frost yang selalu mendengung di telingaku sewaktu aku dalamke bingungan:
“The woods are lovely, dark and deep
But I have promises to keep
And miles to go before I sleep.”
“ Sungguh indah hutan belukar nan lebat dan gelap
Tapi ada janji-janji yang harus kupenuhi
Walau ku terpaksa berkelana jauh.”

Aku tahu janji-janji yang akan kupenuhi. Aku tahu pula bahwa untuk memenuhi janji-janji tersebut aku harus merantau—kembali ke Asia Tenggara—menghadapi kesulitan-kesaulitan yang pedih, yang menentukan kejayaan atau keruntuhan masa depan.
Pada suatu petang di bulan Februari 1956, sesudah aku baru saja kembali dari Asia, aku pergi untuk menghadiri suatu jamuan makan pada kedutaan Vietnam di Wasington D.C. Malam itu seakan-akan mendapat pertanda, bahwa semua harapan untuk kembali lagi ke Indo China dengan membawa utusan kesehatan sendiri akan tergantung pada pembicaraan-pembicaraan yang diadakan pada jamuan makan tersebut.
Aku tahu dan menyesal sekali, bahwa aku tidak dapat kembali ke Vietnam. Daerah utara kini tertutup oleh tirai bambu sedangkan di bagian selatan tenagaku tiada diperlukan, sebab di situ sudah terdapat utusan kesehatan dari Operasi Persaudaraan Filipina (Filipinos Operation Brotherhood) yang melancarkan bantuannya dengan memuaskan. Kemana lagi aku dapat mengerjakan dan menggunakan pengetahuanku tentang Indo China? Di Kamboja atau di Laos-kah ? Mungkinkah aku akan diterima dengan senang hati di sana, mengingat situasi politik yang sedang genting itu ?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini maka temanku, Duta Besar Tran Van Chuong dari Vietnam telah mengadakan jamuan makan untukku, selain itu juga diundang sejumlah orang-orang Kamboja serta diplomat-diplomat Laos. Sampai jauh malam aku mempercakapkan tentang sifat utusan kesehatan yang kurencanakan—kecil, dengan ongkos sendiri (kebanyakan dari sakuku sendiri), tanpa bantuan dari pemerintah manapun atau dukungan gereja serta kewajiban lain. Utusan itu yang terdiri dari aku sendiri dan beberapa pemuda Amerika yang pernah menyumbangkan tenaganya bersama-sama denganku di Vietnam Utara.
Kami akan bekerja selaku orang Amerika biasa di kalangan rakyat jelata, di tempat yang diperlukan, di sawah dan di desa-desa, di hutan-hutan dan bagian pegunungan dari negara itu.
Apabila tugas kami ini berhasil, maka mungkin akan menjadi pendorong bagi bangsa Amerika lainnya baik dokter-dokter maupun orang-orang biasa untuk mengikuti jejak kami yaitu berjuang atas dasar kerjasama internasional antara bangsa-bangsa.
Orang-orang kamboja mendengarkan dengan hikmat tanpa memberikan pernyataan sesuatu. Tetapi duta besar Laos J.M. Ourat Souvannavong kulihat mengikuti pembicaraannku dengan penuh perhatian.
Ia bertanya: “Dr. Dooley, tuan baru saja bebas dari tugas Angkatan Laut. Kini lapangan kerja terbuka bagi tuan. Mengapa langkah ini yang diambil, kalau sudah jelas diketahui bahwa tuan akan banyak berkorban ? Hasil apa yang akan tuan capai kelak?
Sekali lagi kucoba memaparkan keyakinanku yang dalam, yaitu bahwa bantuan pengobatan yang dilancarkan atas dasar kerjasama antar bangsa-bangsa akan menghasilkan tali persahabatan yang kekal antara Timur dan Barat. Kalaulah ini benar, maka kami, dokter-dokter Amerika berkewajiban untuk melaksanakannya. Karena aku telah mengabdi di Asia Tenggara dan meyaksikan sendiri akan kebutuhan itu, maka panggilan ini tak dapat kuelakkan. Lain dari pada itu, aku masih muda, bebas tiada ikatan yang akan menghalangi maksudku untuk pergi ke-tempat-tempat yang diperlukan.
Tiba-tiba kuingat akan jawaban Norman Baker seorang nahkoda kasar yang pernah melontarkan kata-kata terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas. Aku berusaha menerjemahkan perkataan Baker ke dalam bahasa Perancis. Kuterangkan pula bagaimana Baker mengumpulkan kata-kata untuk menandaskan alasan-alasannya. Demikianlah jawabannya: “Oh... tuan, kami ingin mengerjakan sesuatu untuk bangsa lain yang keadaannya kurang menyenangkan.” Mendengar ini orang-orang Kamboja tersenyum sambil mengangkat keningnya. Perkataan Baker memang tepat. Tetapi duta besar Souvannavong berseri-seri serta kagum dan dari gelengan kepalanya kudapat menduga gagasannya: Oh, orang-orang Amerika yang tak dapat dipercaya !
“Dr. Dooley...”, katanya. “Negara kami akan mendapat kehormatan besar karena dapat menyambut misi rombongan tuan. Jika berkenan, tuan kami persilahkan datang dikedutaan pagi ini.” Keesokan harinya duta besar Laos menerimaaku di ruang kerjanya. Di situ diterangkan dengan singkat tentang keadaan mesyarakat serta politik kerajaan Laos. Ia mengatakan betapa perlunya utusan kesehatan seperti rombongan kami untuk dikirim kesana. Laos hanya memiliki seorang dokter yang harus melayani seluruh penduduk yang berjumlah kira-kira dua juta. Dokter ini mendapat pendidikan secara Barat. Melihat keherananku dia hanya tersenyum sedih. “Kami juga mempunyai beberapa juru rawat yang disebut Medecins Indochinois”, Ia melanjutkan pembicaraannya, “Mereka adalah tamatan Lycee yang mendpat sekadar didikan pengobatan. Kebanyakan penduduk yang sakit lari ke tukang-tukang sihir.” Lycee adalah sekolah yang kira-kira setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama.
Duta Besar itu kemudian menerangkan, bahwa satu-satunya dokter yang terdapat di Laos adalah kemenakannya sendiri, yaitu Dr. Oudom Souvannavong yang juga menjabat sebagai Menteri Kesehatan. “Kami yakin, dia akan menyambut tuan dengan gembira dan akan membantu tuan seperlunya”, katanya. “Kami memperingatkan kepada tuan, bahwa tuan memerlukan bantuan serta petunjuk-petunjuk berhubung dengan kesulitan-kesulitan, serta bahaya-bahaya yang mungkin terdapat di negara kami.”
Kami mendapat sebuah peta dinding yang besar, maka terbentanglah di mukaku kerajaan Laos yang membujur ditengah-tengah semenanjung Siam. Gambar itu mengingatkan aku akan telunjuk jari panjang dengan tulangnya yang besar terkait oleh tangan Tiongkok Komunis sedangkan ujung jarinya seakan menjulur ke Kamboja dan Vietnam Selatan.
Duta besar Souvannavong menunjuk kearah propinsi yang terletak di sebelah barat laut perbatasan Tiongkok dan Burma. Untuk pertama kali mataku tertumbuk pada kota Nam Tha, yang seakan-akan mengejar-ngejar aku selamaini.
“Seandainya tuan pergi kesana, tuan akan menghadapi banyak kesulitan, tetapi tempat itu pulalah yang sangat minta bantuan tuan. Nam Tha adalah kota yang terpencil, penduduknya melarat. Di situ penyakit meraja-lela, sedang situasi politiknya cukup hangat dan sangat sulit untuk dipahami orang Barat.”
Kulayangkan pandanganku pada peta dan tercengang ketika kulihat bahwa Nam Tha letaknya hanya berdekatan (di sebelah barat, sekitar 500 mil) dengan kota Haiphong di Vietnam Utara yang menyedihkan itu. Kedua propinsi yang berdekatan itu merupakan pangkalan sementara dari kaum Komunis yang dipimpin oleh Pathet Lao berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan oleh konferensi Jenewa tahun 1945, yaitu konferensi yang membegi Vietnam menjadi dua negara dan menjamin Kamboja dan Laos menjadi negara yang berstatus “netral” di Indo-China.
Kukatakan bahwa kami bersedia mencoba kesempatan ini, disamping itu aku juga berjanji akan bertindak bijaksana. Duta Besar Souvannavong mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku dengan hangat, sambil mengatakan bahwa ia menaruh kepercayaan kepadaku.
“Dahulu kala” demikian ia menambahkan, “banyak orang kulit putih datang untuk membantu kami. Tetapi mereka selalau mempunyai motif lain, yaitu; menjajah, berdagang, bahkan sampai mencampuri urusan agama. Tetapi kami yakin bahwa maksud tuan kali ini bersifat perikemanusiaan semata-mata. Itulah yang menjadikan utusan tuan sesuatu utusan yang istimewa di negeri kami”. Kemudian dengan berseri-seri ia melanjutkan, “Dan bagi beberapa orang Laos, agak sulit untuk mempercayainya”.
Untuk mengesahkan rombongan missi kami maka Angier Biddle Duke, Ketua Badan Penolong Internasional (International Rescue Committee) memasukkan kami dibawah perlindungan I.R.C yang sudah terkenal diseluruh dunia.
Kemudian aku periksa simpanan uangku di Bank yang kukumpulkan dari hasil ceramah dan karangan bukuku.
Berdasarkan pengalamanku diVietnam dahulu, sekali lagi aku menghubungi perusahaan-perusahaan farmasi serta perusahaan-perusahaan obat-obatan untuk meminta sokongan. Pengertian serta kemurahan hati mereka sungguh menakjubkan. Perusahaan Charles Pfizer menyumbang obat-obat antibiotika seharga USD 100.000 lebih. Johnson & Johnson memberi bantuan alat-alat pembalut serta alat-alat bedah. Perusahaan AS Aloe di St.Louis, Mo., memberi perkakas dan alat-alat bedah selengkapnya sedangkan petugas-petugas perseroan tersebut menyumbang uang berupa cek yang tidak sedikit jumlahnya.
Perusahaan Mead Johnson menyerahkan sejumlah besar persediaan vitamin protein sedang Mr. Johnson menyodorkan ceknya sendiri seharga USD 5.000. Walt Disney menyumbang sebuah sound proyektor beserta sejumlah film Disney untuk anak-anak Laos. Willy Company menghadiahkan sebuah jeep yang khusus dimaksudkan untuk daerah hutan belukar. Jeep itu kemudian dinamakan Agnes, sesuai dengan nama ibuku.
Di New York aku menghubungi Abercombie & Fitch dan disitu aku memesan barang-barang yang sangat diperlukan: tungku,lampu-lampu, tempat tidur, tikar, dan peralatan dalam cuaca dingin. Rekening yang harus kubayar sungguh mengejutkan, tetapi setelah penjaga toko mengetahui sifat dan tujuan missiku,dia minta diri serta menghilang kekamar wakil kepala toko. Tak lama kemudian ia keluar dengan rekening yang telah dirobek-robek.
Pada suatu hari aku berada di Wasington DC. Disitu aku menunggu giliran untuk menyampaikan pidato pada Badan Penolong Internasional mengenai peranan Vietnam merdeka di Asia dewasa ini. Seorang wanita kecil dan tangkas datang terlambat. Setelah mengambil tempat disampingku di deretan kursi terakhir ia berbisik: “Sudahkan Dr. Dooley menyampaikan pidatonya?” aku tersenyum dan berkata :” Belum, tetapi pidatonya tentu akan serem !” Ia mengangguk lalu berkata: “ Aku cari dia sampai setengah mati”. “ Mengapa ?” tanyaku. “ Aku ingin memberikan 500 pon protein kepadanya.“ Pada waktu itu aku dipanggil untuk berbicara. Tak lama kemudian kami berjumpa di serambi dan disitu baru kemudian aku ketahui bahwa dia adalah Nona Florence Rose yang peramah dan menjabat sebagai Sekretaris dari lembaga makanan untuk membantu rakyat di negeri lain (Meals for Millions Foundation). Dia benar-benar menyerahkan 500 pon berbagai jenis makanan serba guna yang secara langsung dapat menolong beratus-ratus jiwa dalam rumah sakit selama tehun-tahun berikutnya.
Angkatan Laut Amerika tidak melupakan aku. Telah disetujui bahwa mereka akan mengangkut peti obat-obatan,makanan serta alat-alat yang telah kukumpulkan hingga beberapa ton,walaupun aku kini sudah menjadi orang sipil. Barang-barang tersebut semuanya diangkut ke Vietnam Selatan, hingga sangat membantu penghematan ongkos pengeluaran.
Beberapa minggu lamanya aku menghubungi bermacam-macam jawatan Amerika di Wasington yang ada hubungannya dengan usaha-usaha di Asia. Bada Kerjasama Internasional (International Corporation Administration/ ICA) banyak membrerikan janji-janji yang jujur danikhlas, tetapi dalam kenyataannya hanya sedikit terbukti. Namun ICA di Washington banyak membantuku pada taraf rencana semula. Demikian pula cabang Kantor Penerangan Amerika yang menjanjikan sebuah tape-recorder berikut baterainya.
Selama masa ini aku berjumpa dengan Nyonya Raymond Clapper, janda wartawan perang terkenal yang meninggal di Korea. Nyonya Clapper adalah Ketua dari Yayasan CARE di Wasington. Dengan memberi aku petunjuk-petunjuk, memperkenalkan aku pada beberapa pejabat, dan dengan jadi kawan yang baik, maka Nyonya Clapper menjadi semacam bidan bagi lahirnya operasi Badan Penolong Internasional untuk Laos. Kebetulan CARE mempunyai tas penyimpan alat-alat kebidanan yang bagus, hampir serupa dengan travelling bag para penumpang kapal terbang. Nyonya Clapper-lah yang menyarankan agar kepada masing-masing lulusan kursus kebidanan yang telah kurencanakan pembukaannya, diberi tas penyimpan alat-alat tersebut yang berjumlah 50-an buah. Keberadaan tas-tas itu sungguh sangat besar manfaatnya.
Jadi soal yang rumit dari rencanaku telah dapat diatasi, kecuali dalam melengkapi anggota-anggota rombongan. Sejak dulu aku mengharapkan tenaga Norman Baker, Peter Kessey dan Denny Shepard. Orang-orang itu paling rajin dan setia dari sekian anggota-anggota yang terdaftar dalam rombongan di Vietnam Utara, tetepi pelaksanannya jauh dari pada mudah. Denny Shepard yang belum lama kawin sedang menghadapi ujian sarjana pada Universitas Oregon. Peter Kessey mengikuti sekolah farmasi di Austin, Texas. Sementara Baker juga seorang penganten baru yang masih berdinas di Angkatan Laut. Bersediakah mereka sebagai orang sipil, kembali ketempat malapetaka di daerah Asia yang pernah mereka kunjungi ?
Sukurlah Peter dan Denny menyambut penggilanku dengan tegas dan penuh semangat. Sedang kapal yang ditumpangi Baker tengah berlayar di tengah lautan. Untuk menghubungi dia, diperlukan waktu seminggu. Demikianlah maka pada suatu hari, di Washington, aku mendapat telpon dari baker di San Diego. Kerika aku membicarakan tentang operasi Laos, maka teriakannya terdengar dari pantai kepantai.
“Apa ? Kembali ke Indo China? Kau gila? Sungguh tolol, kau takkan memanggil aku keneraka dunia semacam itu. Kecuali itu,isteriku tak akan tahan diam disana. Tidak, sekali-kali tidak !”
Sejenak sunyi senyap. Kubiarkan dia melampiaskan emosinya, tapi kemudian...
“Hallo, kau masih disitu Dok ? Hai, dengarkan. Kau benar-benar tak memerlukan aku, bukan ? manfaat apa yang akan kita ambil dari jerih payah kita disana ? Dan ada satu hal yang nampaknya telah kaulupakan ! (terdengar ketawanya terkekeh-kekeh) Si Baker masih merupakan kebanggaan serta andalan Angkatan Laut Paman Sam !”
Kutandaskan, bahwa aku memerlukan tenaganya. Bahwa operasi Laos merupakan tantangan yang hebat dan bahwa aku yakin dapat mengeluarkan dia dari Angkatan Laut secepat mungkin. Kudengar dia menggerutu dan merintih. “Hai Dok, betul aku akan mencatatkan namaku. Tetapi Priscilla tentu akan menceraikan aku karena soal ini.” Bersambung…














TIBA DI LAOS
Untuk mengangkut barang-barang kami, maka kapal terbang Vietnam yang besar mengadakan tiga kali perjalanan dari Saigon ke Vientiane mengangkut empat ton peti-peti. Pada perjalanan terakhir kami ikut serta. Dengan menakutkan kapal mendarat di tempat landasan, kemudian keluarlah kami dengan badan letih-lesu karena duduk selama enam jam di atas peti muatan. Sementara orang-orang bekerja membongkar muatan, kami mengumpulkan perlengkapan kami yang terpenting untuk dimasukkan ke dalam truk kuno, lalu sesudah itu kami menuju ke kota. Jeep yang kami beri nama Agnes diluncurkan melalui Kamboja, Siam dan kesebelas utara Laos. Perjalanan itu harus ditempuh selama sepuluh hari. Ketika melalui sebuah sungai, jeep itu diseberangkan dengan sebuah sampan, akhirnya sampailah kendaraan itu di Vientiane.
Vientiane, yang sewaktu penjajahan bangsa Prancis dijadikan ibukota Laos, mempunyai jalan yang besar dengan deretan pohon-pohon jati dan akasia. Tetapi setiba kami disana, musim hujan telah merubah jalanan yang tidak beraspal itu menjadi sungai-sungai berlumpur yang penuh sesak dilalui oleh mobil-mobil asing, pedati-pedati, orang-orang yang berjalan kaki, sapi-sapi yang berkeliaran serta anjing-anjing yang mengantuk. Gejala-gejala bahwa masa penjajahan Perancir telah mendekati akhirnya, nampak dimana-mana. Kapur yang terkupas dari gedung-gedung pada berjatuhan, sedangkan di halaman gedung perwakilan terdapat kubangan-kubangan kerbau dan isteri-isteri penjaga kantor perwakilan menjemur cuciannya di sekitar tiang-tiang yang besar. Ketika kami berhenti di muka hotel Samhoun kami mengalami kecelakaan kecil. Jalan yang baru saja dibuat runtuh karena tidakkuat menahan beratnya truk, sedang roda muka dan belakang sebelah kanan mesuk ke parit.
Kami keluar, sambil memeriksa kerusakan. Sopir Laos hanya menggerakkan bahunya sambilberkata “ Bau pinh yanh”. Baru kemudian ku ketahui, bahwa ini merupakan ucapan umum di Laos untuk mengatakan: “Masa bodoh”. Dua hari sesudah kejadian itu, truk yang rusak itu masih saja berdiri di depan hotel

CERPEN "Mbah Sarijah"

Oleh


Khilmi Zuhroni

Sudah dua tahun dia menjadi penghuni tetap terminal. Tak ada anak, tak ada suami juga tak ada satupun dari keluarganya yang menemani. Hanya sebuah bungkusan kain lurik kembang yang mulai tak jelas warnanya. Bungkusan itu terikat oleh bagian, entah lengan baju, entah cawet kolor yang tersembul beberapa helai dari bugkusan itu sendiri. Dari ikatannya, tampak bungkusan itu adalah hartanya yang selalu menemani kemanapun dia pergi. Tak banyak dia bicara sekalipun keberadaannya dua tahun di sana telah mejadikan para penghuni terminal yang lain sudah sangat mengenal dirinya “seorang perempuan tua sendirian tanpa keluarga yang setiap pagi berdiri lama, mematung di depan warung dan hanya mau pergi jika telah diberi bungkusan nasi di tangannya”. Semua pedagang-pedagang terminal mengenalnya. Dari pedagang asongan, buruh terminal sampai penjaga kios-kios kecil yang penjajakan penganan-penganan khas daerah, juga minuman soda, roti tawar dan pedagang buah. Juga mereka mengenalnya sebagai penghuni terakhir—sebuah istilah yang menurut para pedagang itu terinspirasi dari sebuah acara tv—sebab setiap antara jam 9 malam, saat bus terakhir melintasi terminal, perempuan tua baju biru dan setelan sarung yang dipakainya sejak setengah tahun itu berlari tergopoh melambaikan tangannya menghentikan bus. Sopir yang sudah lama mengenalnya, tak geming berlalu untuk mengejar waktu menyerahkan uang setoran. Kadang jika lagi baik, mereka melemparkan padanya uang lima ratusan atau seribu. Atau hanya dua ratus, atau sisa minuman atau roti, atau apalah yang bisa diberikan. Sopir yang tidak mengenalnya berhenti. Kondektur turun “Ayo mbah cepat naik, sudah malam…” Dengan setengah ragu dan gerak bibirnya yang gugup perempuan itu berdiri gemetar dengan selidik mata ke kiri ke kanan menyapu deretan kursi-kursi pemunpang yang setengah kosong. “Masing kosong mbah, ayo cepat naik…” bibir dan kepala gugup-nya seperti menyebut nama tapi hanya dia sendiri yang mendengar “Yanto… Yono… Yan.. Yon…”.
“ Siapa mbah…?”
“Yanto… Yono…Yan…Yon…” juga hanya telinganga yang mendengar.
“Wah…orang tua edan. Brangkat bos…” Pinta Kondektur kepada sopir untuk segera berangkat.
Penghuni terminal juga mengenalnya “perempuan tua dari dunia antah-berantah”. Setiap kali mematung di depan warung jika ditanya asalnya, dengan bibir gugup keluar jawaban “Srembang”, besoknya “Srowot”, lusa “Jonogoro”, kadang “Mongan”, Kediri, Pandak, dan jawaban-jawaban yang tak jelas lainnya. Tapi sudah hampir dua tahun ini orang-orang memanggilnya “Mbah Sarijah”, dari kesepakatan mereka sendiri karena jika ditanya nama selalu keluar kata dari bibirnya yang juga tetap gugup “Saijah”, kadang “Samijah”, atau “ Sakijah”, tapi lebih sering terdengar “Sarijah”. Nyatanya perempuan itu senang juga dengan sebutan “mbah Sarijah”. Sejak itu dari mulai anak-anak pengamen, pedagang asongan, tukang sapu terminal, kondektur, juga penghuni terminal yang lain memanggilnya “Mbah Sarijah”.
Tak ada yang tahu apa sebetulnya yang dibawa mbah Sarijah dalam bungkusan itu. Atau memang tak ada yang mau tahu. Kehidupan terminal memang memiliki alur hidup sendiri. Berbagai orang dengan berbagai asal daerah dan berbagai kebutuhan dan sejarah hidup datang-pergi setiap hari. Tak henti. Tak saling sapa. Sebab, menyapa berari memberi peluang orang lain untuk berbuat sesuatu yang tak jelas kebutuhan dan keinginannya. Beruntung jika secara kebetulan bersapa dengan orang baik. Rasa senasib-seperjalanan akan memberi rasa nyaman dan keberanian menghabiskan waktu sepanjang perjalanan. Sudah banyak deretan cerita-cerita naas mengalir berawal dari sapa-menyapa di terminal. Ada yang bangun-bangun, tahu-tahu uang dan bawaannya hilang, kepala pusing dan mata berkunang-kunang. Ada yang memar dan bengkak pada mata kiri setelah tegur-sapa dan tawar-menawar, sebab tak jadi membeli barang. Kadang tak sadar ikutan juga diajak jalan sampai lorong-lorong gelap warung pojok terminal. Namun banyak juga yang berawal dari sapa-menyapa, berakhir di pelaminan, mengangkat saudara, dapat lowongan kerja dan sebagainya. Semua tergantung nasib. Demikian juga mbah Sarijah yang kebawa arus zaman dua tahu lalu hingga menjadi penghuni terminal. Hanya awak bus, kru angkutan, dan berbagai jasa angkutan lain yang paling suka menyapa. Tentu juga dengan kebutuhan dan keinginan, untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya.
Sekalipun sudah dua tahun di terminal, mbah Sarijah tidak suka dengan suasana ramai. Suara-suara mesin bus dan sambut-suara kondektur dari pagi hingga malam yang selalu menawarkan tujuan “Ngawi-Ngawi”, “Solo-Jogja…” “Boyo-pak, Boyo…”,”Nganjuk-Nganjuk…”, “Kediri, om…?” Hanya membuat kepalanya gemetar-gugup dan matanya menjadi mengawas-menyelidik deretan kursi tunggu di ruang tengah terminal. Jika suara semakin berisik dia mendekap erat bungkusan, memojok di lorong sempit setengah gelap di belakang ruang tunggu terminal. Di sanalah selama dua tahun mbah Sarijah menghabiskan hari-hari tuanya. Jika dilihatnya sebuah wajah pada penumpang yang kuluar-masuk ruang tunggu, akan dikejar bersama bungkusannya dengan tergopoh “Yanto…Yono…Yan…Yon…” terus mengejar dan komat-kamit menyebut nama, sekali terdengar, namun lebih sering hanya gerakan bibir dari kepala gugupnya. “Yanto… Yono…Yan…Yon…” Siapapun yang didapatinya menjadi terkejut, takut, risih, mengibaskan tangannya dan segera mempercepat langkah “Dasar orang tua edan…”. Mbah Sarijah berhenti mengatur nafas yang tersengal-berat “ Yanto. Yono. Yan. Yon.” Melambai tangannya pada ruang kosong, pada bayang-bayang penumpang yang keluar-masuk terminal siang hari. Senja memasuki hari, hanya gelap yang ada. Antara samar diantara sorot lampu-lampu bus yang lalu lalang, juga lampu-lampu terminal yang sesaat hidup-sesaat mati, matanya terus mengawasi bus-bus yang datang-pergi dengan cepat mengejar penghabisan hari.
Hari-hari berjalan tak lain dari biasanya. Bangun, dengan kepala gugup mencari bungkusannya. Didekap. Berjalan setengah sempoyong, lalu berdiri mematung di depan warung nasi. “Ini mbah, sudah sana pergi nanti orang-orang tak mau mampir kalau terus berdiri di sini…” Tapi pagi itu dia tidak segera pergi, matanya mengawas tajam pada sebuah wajah di dalam warung.
“Sudah mbah, mau apa lagi ?” Tanya penjual nasi. Mbah Sarijah tetap mematung dengan mata semakin tajam “Yanto…Yono…Yan…Yon…”Hanya gerakan gugup yang keluar dari bibirnya. “Ada apa toh mbah..?” mbah Sarijah tak jawab. Pelan-pelan melangkah menghampiri seeorang yang tengah makan di meja belakang warung itu.
“Yanto…Yono…”Panggilnya dengan suara setengah nada
“Siapa mbah..?” seseorang itu menghentikan makannya.
“Sudah mbah pergi sana, orang lagi makan diajak ngomong…” tegur pemilik warung. Mbah Sarijah tak peduli dengan pertanyaan dan teguran itu, dengan suara gugup terpotong-potong “Aku diusir Suti adikmu, dari rumah”
“Siapa mbah. Siapa yang diusir?”
“Katanya aku membebani keluarganya…”
“Siapa membebani siapa mbah…?”.
“Katanya kamu di Jombang, aku mencarimu kesini. Sudah dua tahun” Dari bungkusan itu dikeluarkannya sesuatu “Katanya kamu di Jombang, aku mencarimu kesini. Sudah dua tahun” Kalimat itu diulanginya kembali.
“Foto siapa mbah?”
“Aku diusir Suti, Yan. Yon…”
“Foto siapa toh mbah…?” Tanya pemilik warung, lalu diambilnya foto dari tangan seorang yang sedang makan di warungnya. Sebuah foto kusam dengan dua wajah kembar yang mulai berbintik kelembaban. Di belakangnya bertulis latin “Yanto dan Yono Jombang”.
“Katanya aku membebani keluarganya”
“Aku mencarimu kesini. Sudah dua tahun”
“Yanto…Yono…Yan…Yon…”. Menghabiskan separuh makannya, orang itu bergegas mengejar bus yang sejak tadi ditunggunya. Mbah Sarijah tergopoh mengejar dengan kepala gugup dan bungkusannya, melambaikan tangan pada ruang kosong “Yanto…Yono…Yan…Yon…”.
“Aku mencarimu kesini. Sudah dua tahun…”

Jogjakarta, 24 April 2007

Jam Dunia

Logo Muhammadiyah

logo Muhammadiyah
logo aisyiyah

logo pemuda muhammadiyah

logo Nasyiatul Aisyiyah

logo IMM

logo IPM

Minggu, 03 April 2011

KESADARAN PROFETIK DAN KESADARAN MISTIK MENURUT MUHAMMAD IQBA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Nubūah merupakan sumber utama kebangkitan diri. Cara berpikir yang didasarkan pada konsepsi nubūah memberikan akal-pikiran, keimanan, disiplin dan penyempurnaan kepada terbentuknya suatu bangsa yang besar. Dia tidak menjadikan diri menuju tingkat subyektifitas yang sempit, akan tetapi pemahaman individualitas seseorang melalui renungan, introspeksi, pengenalan diri dan realisasi diri, pribadi akan sampai pada kesadaran tanggung jawabnya.
Istilah kesadaran profetik (Nubūah, kenabian) dan mistik banyak terdapat dalam karya yang menyangkut diri Muhammad Iqbal. Baik dalam karya-karya pemikiran Muhammad Iqbal sendiri, maupun karya-karya penelitian dan tulisan yang terkait dengannya. Dengan demikian kedua istilah tersebut tentu mengandung makna yang sangat mendalam dalam sekian luas pemikiran Muhammad Iqbal terlebih dalam upayanya melakukan perubahan pemikiran keagamaan dalam Islam. Di samping itu sebagai sosok yang tidak hanya dikenal oleh dunia sebagai penyair, namun juga sebagai filosof, hakim sekaligus politikus tentunya kesadaran propfetik dan kesadaran mistik memiliki relevansi tersendiri dalam kegemilangan pemikirannya.
Demikian besarnya gagasan Iqbal tentang kesadaran profetik, Annemarie Schimmel banyak menyebut karya-karya filosof dan penyair Iqbal sebagai karya-karya yang senantiasa menyuarakan kebesaran jiwa-jiwa profetik, atau karya-karya yang kental dengan nuansa profetologis. Hal senada juga disampaikan oleh Mazheruddin Siddiqi, yang mengatakan bahwa dalam pemikiran Iqbal jiwa-jiwa profetik itu digambarkan sebagai individu yang dapat menyatakan dirinya secara spiritual dan intelektual dalam bentuk sikap kreatif. Seorang penafsir pemikiran Iqbal, Ghulam Parvez, bahkan mengatakan bahwa konsepsi kenabian yang telah dibangun oleh Iqbal memberikan inspirasi besar bagi kebangkitan pemikiran terutama di dalam kalangan-kalangan progresif tertentu. Dari konsepsi kenabian itu juga Parvez mengklaim bahwa hanya pintu nubūah segi personal Muhammad yang tertutup, sedang risālah (ideologi) terpulang kepada orang-orang muslim untuk mengamalkan dan mengelaborasinya.
Meskipun demikian, ada sebagian penulis yang mengatakan bahwa dalam nuansa profetiknya yang menggambarkan ego sebagai kekuatan pribadi yang aktif dan kreatif, secara konsepsinal, Iqbal belum dapat lepas sepenuhnya dari mistisisme yang dapat disebut sebagai awal karir pemikirannya. Hal ini misalnya terdapat dalam konsep Tuhan sebagai pusat Keindahan, di mana semua realitas mendapat pancaran dari Pusat Keindahan tersebut. Dengan penggambaran Tuhan sebagai Pusat Keindahan dan Keindahan Abadi yang tidak bergantung kepada yang lain, dengan demikian gerak pribadi juga tergantung oleh pancaran Keindahan ini sehingga tidak sepenuhnya kreatif dalam substansinya, Iqbal sebetulnya seorang penganut aliran panteisme, terutama panteisme Ibnu ‘Arabī.
Maka, untuk memahami betul bagaimana posisi profetik terkait dengan penelitian ini, kesadaran profetik tersebut mencoba dilihat secara oposisi dengan kesadaran mistik, sebab dalam kajian tentang pemikiran Iqbal, ada yang mengatakan dalam medua konsepsi tersebut Iqbal tidak memiliki batasan yang jelas bagaimana dia mencoba menjelaskan antara kesadaran mistik dan kesadaran profetik (nubūah). Sementara Annemarie Schimmel misalnya mengatakan bahwa mistisisme yang dipahami oleh Iqbal justeru adalah mistisisme yang profetis. Apakah antara kesadaran profetik dan kesadaran mistik bersifat kontradiktif , afirmatif, maupun integratif dalam pengalaman keagamaan sebagaimana dipahami oleh Iqbal, penelitian ini lebih lanjut akan difokuskan pada pembahasan tersebut.
Melakukan kajian pemikiran secara filosofis murni tanpa bersinggungan dengan teologi sama sekali, dalam tradisi filsafat Islam, bukan hal yang mudah untuk dihindari, sebab sangkut paut antara keduanya memang kerap kali muncul. Hal ini misalnya terjadi dalam aliran ‘Asy’arī, di satu sisi mereka bicara tentang akal dan wahyu dalam kerangka teologis, sementara di sisi yang lain dengan tema yang sama mereka melakukan pembahasan itu dalam kerangka filosofis murni.
Namun demikian dengan kajian yang mendalam dan melihat keduanya secara integral akan dapat juga dikenali nuansanya, mana wilayah teologis dan wilayah filosofis. Dibutuhkan ketelitian yang cermat atas setiap usaha interpreasi dari berbagai pemaparan konsep dan pemikiran yang ditampilkan. Kesulitan serupa juga penulis alami saat melakukan kajian tentang kesadaran profetik dan kesadaran mistik dalam pemikiran Muhammad Iqbal. Sebab hampir sebagian besar pemikiran Iqbal tidak berhenti sebatas hasil dari ketajaman filsafatnya an-sich, akan tetapi lebih jauh pemikiran Iqbal secara sengaja juga ditujukan kepada umat Islam saat itu yang mengalami keterbelakangan di berbagai bidang. Meskipun demikian, usaha untuk tetap berada dalam lajur filosofis dengan sekuat tenaga akan tetap dipertahankan.
Ada beberapa pokok persoalan mengapa tema ini menjadi penting untuk diangkat. Pertama, bahwa sebagai seorang pemikir sekaligus penyair, corak pemikiran Muhammad Iqbal sangat kental dengan nuansa kenabian, yakni suatu kesadaran yang disebutnya sebagai sebuah proses konstruksi kehidupan yang terus-menerus bergerak menuju kesempurnaan, di mana manusia yang disebut al-Qur’an sebagai wakil Tuhan juga sangat terlibat aktif dalam proses menuju kesempurnaan tersebut. Kedua, bahwa meskipun banyak yang menilai kehidupan Muhammad Iqbal sangat bernilai sufistik, dengan ciri utama karya-karya puisinya yang bernuansa Rumian, namun semangat pemikiran Iqbal tetap pada gagasan kebangkitan diri untuk selalu terlibat dalam kehidupan yang telah diciptaan Tuhan, dan tidak sekali-kali menafikannya. Ketiga, bahwa banyak pengamat dan peneliti yang melihat karya-karya Muhammad Iqbal memiliki corak profetik yang sangat khas.
Salah satu pokok masalah yang menimbulkan perdebatan antara pemikiran Iqbal dengan mistisisme adalah masalah monisme dan pluralisme. Bagi Iqbal watak utama bagi setiap ego adalah individualitasnya. Alam semesta merupakan kumpulan dari individu-individu, dan Tuhan sendiri adalah sebagai individu yang sempurna. Perbedaan yang paling jelas antara pemikiran Iqbal dengan mistisisme terutama dalam konsepsi Wahdāh al-Wujūd dalam konteks ini adalah bahwa spiritualitas dalam individu sebagaimana menurut Iqbal lebih menekankan pada satu aspek dari spiritualitas yang menyebar, yakni yang bersifat pluralistik, sementara Wahdāh al-Wujūd lebih menekankan pada aspek monistiknya.
Wujud Tuhan dalam Wahdāh al-Wujūd bersifat wajib ada, meskipun sekaligus bersifat imanen dalam alam benda-benda dan bersifat transenden. Peristiwa-peristiwa diterangkan dalam hukum sebab-akibat, dan kewajiban sosial dilakukan seakan-akan dunia ini adalah dunia yang riil. Sementara Iqbal tidak pernah bicara tentang pluralitas dalam pengertian bahwa dunia ini benar-benar tidak bergantung pada kesadaran Ilahiah. Meskipun alam semesta ini terdiri dari kumpulan individu-individu, ada jiwa kreatif yang sama yang membuat setiap individu di dalamnya menjadi aktif.
Melalui jiwa kreatif inilah diri senantiasa berusaha keras penguasai pribadinya secara bertahap menuju gerak kesempurnaan. Yakni dengan tahapan belajar mematuhi dan tunduk pada kodrat manusia sebagai makhluk dan hukum-hukum Illahi. Setelah itu tahap yang lebih lanjut dengan belajar disiplin terutama dalam mengendalikan diri dari berbagai kelemahan-kelemahan pribadi melalui ketakutan dan cinta pada Tuhan dan ketakbergantungan pada dunia. Tahap selanjutnya adalah proses pencapaian kesempurnaan spiritual yaitu dengan usaha mendekati Tuhan secara konsisten dengan ketinggian martabat pribadi. Sang pribadi mencari dengan kekuatan dan kemauannya.
Sikap pluralistik yang dimaksud oleh Muhammad Iqbal terdapat pada bagaimana jiwa-jiwa kreatif itu senantiasa bergerak mencapai tingkat kesempurnaan pribadi. Tuhan tidak dapat diperoleh dengan cara meninta-meminta dan memohon semata. Pada saat manusia telah menemukan Tuhan pribadi tidak boleh larut terserap ke dalam Tuhan hingga menjadi tiada (manunggal), sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya sebanyak mungkin sifat-sifat-Nya. Dengan menyerap Tuhan kedalam dirinya, tumbuhlah ego. Ego menjadi super Ego, maka pribadi telah naik ke tingkatan wakil Tuhan. Dengan demikian dia dianggap telah memenuhi syarat menjalankan tugas ke-khalīfah-an, memancarkan sifat-sifat Ilahiah dalam mikrokosmos.
Sementara mistisisme bicara tentang menghilangkan diri ‘Ittihād seseorang secara total atau penafian diri secara menyeluruh, Iqbal bicara tentang penyempurnaan diri. Konsep tahap akhir mistisisme adalah konsep identifikasi menyeluruh keinginan individu secara sempurna dengan kehendak Tuhan. Itulah sebabnya Iqbal membedakan antara kesadaran kenabian (profetik) dan kesadaran mistik. Dalam mistik identifikasi ini dicapai dengan cara penafian diri, sedangkan dalam profetik identifikasi dilakukan dengan cara mengembangkan suatu kesadaran bahwa aktivitas kreatif diri adalah aktifitas Ilahiah.
Tujuan kesadaran mistik adalah membuat kesadaran individu terserap ketika persatuan dengan Tuhan telah dicapai. Di sisi lain, kesadaran kenabian memiliki tahapan kembali ke dunia realitas ini untuk menegaskan dirinya sendiri dalam membuat dan mengatur alam semesta. Dengan demikian keberadaan nabi adalah sebuah momentum semangat baru bagi arah tata peradaban manusia di mana goncangan energi-energi dunia psikologis saat pertemuannya dengan Allah merupakan pengalaman religius yang secara konkret mendasari hasrat hendak melihat pengalaman religiusnya berubah menjadi suatu dorongan yang besar untuk menciptakan budaya baru yang merupakan koreksi atas berbagai tradisi dan sejarah terahulu yang dirasa telah jauh dari nilai-nilai luhur kemanusiaan dan visi utama penciptaan manusia.
Untuk mendalami lebih jauh bagaimana makna mistik maupun profetik, ada baiknya penulis mengetengahkan beberapa pemikiran tokoh tentang keduanya. Di mana dari proses deskripsi dan analisis mengenai berbagai makna yang terkandung di dalamnya, penulis akan mencoba melakukan interpretasi terhadap pokok kajian yang akan dibahas lebih jauh tentang kesadaran mistik dan kesadaran profetik. Dari makna-makna yang nantinya diperoleh itu juga ruang lingkup penelitian ini akan banyak berkutat di dalamnya. Sebagian besar peneliti dan ahli mistik berpendapat bahwa mistik adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan kontemplasi.
Sementara A.J. Arberry, memandang bahwa mistis sebagai satu upaya pengabdian hidup manusia untuk mencari persatuan dengan sang Pencipta. Dalam hal ini kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ‘Ittihād bersatu dengan Tuhan. Dia menyebut sufisme sebagai julukan terhadap sebuah gerakan mistik Islam. Seorang sufi dengan demikian adalah seorang muslim yang mengabdikan hidupnya untuk mencari persatuan mistik—atau lebih tepatnya dikatakan sebagai reuni mistik—dengan sang Pencipta.
Sedangkan Reynold A. Nicholson, melihat sufisme—mistik dalam Islam—merupakan bagian dari filsafat Islam yang telah dirumuskan secara mendalam sebagai pemahaman menenai kenyataan Ilahi. Kenyataan Ilahi inilah yang oleh sufi besar Islam dari Bagdad al-Jūnaid (w.910 M) dikatakan sebagai pengalaman mistik tertinggi, di mana adanya penyatuan antara ego temporal ke dalam ego Abadi.
Berbeda dengan beberapa definisi di atas, Syekh Ibnu ’Ajibā (w.1809) mengartikan sufisme sebagai pengetahuan yang dipelajari seseorang agar dapat berlaku sesuai dengan kehendak Allah melalui penjernihan hati dan membuatnya riang terhadap perbuatan-perbuatan yang baik. Laku sufisme bermula dari pengetahuan, di tengahnya adalah perbuatan dan di penghujungnya adalah hadiah spiritual.
Ninian Smart dalam History of Mysticism, menulis bahwa pengalaman mistik dibedakan dengan pengalaman kenabian. Pengalaman kenabian cirinya adalah merasakan kehadiran Tuhan "The mysterium tramendum et fascinans". Sedangkan pengalaman mistik yang introvert di antara cirinya adalah merasakan hubungan dengan sesuatu yang transenden dan rasa berhubungan itu menimbulkan rasa bahagia. Lebih lanjut dia membagi pengalaman mistik menjadi tiga ciri, yakni: menghayati sesuatu yang transenden; menimbulkan rasa bahagia dan tenang; serta ketiga, diperoleh dengan jalan kontemplasi dan penguasaan diri.
Muhammad Iqbal sendiri memberikan tingkatan kesadaran mistik secara umum tentang garis besar sifat-sifat pengalaman mistik tersebut. Menurutnya sebagai pokok utama yang harus diajukan adalah semua pengalaman bersifat langsung. Keberlangsungan pengalaman mistik itu hanyalah berarti bahwa kita mengenal Tuhan persis sebagaimana kita mengenal obyek-obyek lain.

All experience is immediate. As gions of normal experience are subject to interpretation of sense-data for our knowledge of the external world, so the region of mystic experience is subject to interpretation for our knowledge of God.

(Semua pengalaman adalah langsung. Sebagaimana pada pengalaman normal yang melakukan penafsiran terhadap subyek terindra yang ada di luar, begitu juga halnya dengan pengalaman mistik pada saat menafsirkan pengetahuan tentang Tuhan)

Kedua, bahwa pengalaman mistik tidak dapat diuraikan. Berbeda dengan kesadaran rasional yang secara praksis dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekelilingnya dengan cara mengambil kenyataan sedikit demi sedikit, pada suasana mistik, sang pelaku mistik, dihadapkan pada semua keseluruhan kenyataan, bercampur-baur satu dengan yang lainnya suatu kesatuan yang tidak dapat diuraikan karena tidak adanya perbedaan antara subyek dan obyek.
Pokok ketiga ialah bahwa bagi mistik suasana itu merupakan momentum penggabungan yang rapat sekali dengan suatu pribadi lain yang tunggal. Sebagai proses penggabungan dengan pribadi lain yang tunggal tentunya pribadi yang mengalami kondisi ini tidak sepenuhnya pasif, sebab untuk sampai pada penggabungan kalbu subyektifitas murni harus berupaya keras mencapai kearah sana (laku mistik), dalam arti bahwa kelangsungan pengalaman dalam suasana mistik bukanlah tanpa pararel.
Oleh sebab pengalaman mistik itu secara langsung dialami, maka dia lebih bersifat perasaan psikologis ketimbang pikiran. Sementara itu perasaan menurut Muhammad Iqbal adalah ketidakstabilan dari seluruh pribadi yang sadar; dan tempat stabilnya pribadi itu tidaklah terletak dalam batasannya sendiri, tapi melalui batas itu. Dengan demikian sebagai sebuah perasaan, pengalaman mistik seharusnya memiliki tujuan, sebab tanpa tujuan sama tidak mungkinnya dengan sebuah kegiatan tanpa adanya tujuan. Sebab, sebagai suatu pengalaman kondisi itu tidak akan terus-menerus terjadi. Seperti pengalaman-pengalaman biasa kondisi itu akan kembali ke arah normal. Dari kenyataan ini jelaslah bahwa suasana mistik juga akan hilang sebagaimana pengalaman yang lain. Di sinilah menurut Muhammad Iqbal, adanya perbedaan sangat mendasar terutama terletak pada kesinambungan dari kesudahan pengalaman tersebut, yakni antara penganut mistik dengan seorang nabi.
Untuk mendapatkan makna yang lebih mendalam tentang kesadaran nubūah, kenabian atau profetik, beberapa pandangan filosof Islam perlu kiranya diketengahkan sebagai bahan perbandingan analisa. Abū Nasr Muhammad al-Fārābī (257H/870 M - 330H/950 M) misalnya berpendapat bahwa nabi adalah manusia pilihan yang sanggup melakukan komunikasi dengan akal kesepuluh. Dalam bangunan sistem pemerintahan ideal " al-Madīnah al-Fadīlah", al-Fārābī menempatkan nabi sebagai sebaik-baik kepala masyarakat, yakni sebagai sumber dari segala peraturan dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat. Berbeda dengan para filosof yang melakukan komunikasi dengan akal Kesepuluh melalui usaha sendiri dengan menggunakan akal mustafād, nabi melakukan komunikasi dengan Akal Kesepuluh terjadi bukan atas usaha sendiri, melainkan atas pemberian dari Tuhan. Pemberian itu berwujud kemampuan daya imajinasi yang sangat kuat sehingga memungkinkan mereka sanggup berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh tanpa melalui latihan yang biasa dijalani oleh para filosof.
Dengan adanya kemampuan berkomunikasi dengan Akal Kesepuluh itulah nabi atau rasul, dalam pandangan al-Fārābī, adalah sosok pemimpin yang ideal. Sebab mereka menguasai pengetahuan universal yang sanggup mereka dapat melalui komunikasi tersebut sehingga dapat mengatur bumi ini dengan baik dan berfaedah bagi masyarakat. Tugas kepala negara dengan demikian, bukan hanya mengatur negara tetapi mendidik manusia mempunyai akhlak yang baik.
Sementara Abū ‘Ali Husein Ibnu ‘Abdillah Ibnu Sīnā (370 H/980 M - 428 H/1037 M) dalam filsafat jiwa-nya yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles, membagi jiwa dalam tiga tingkatan, yakni ; Jiwa tumbuhan, jiwa binatang dan jiwa manusia. Sifat seseorang sangat dipengaruhi oleh ketiga jiwa tersebut. Jika jiwa binatang yang banyak menguasai manusia, maka manusia dapat menyerupai binatang dan seterusnya. Sementara itu terkait dengan posisi kanabian, menurut Ibnu Sina adakalanya Tuhan menganugerahkan akal manusia yang lebih kuat yang disebut sebagai al-Hāds (intuisi). Akal yang mempunyai daya suci semacan ini hanya terdapat dalam nabi-nabi. Dengan daya yang kuat ini, dengan mudah nabi-nabi dapat berhubungan dengan Akal Aktif dan menerima cahaya serta wahyu dari Tuhan.
Yang bisa menjadi aktual secara sempurna tanpa melalui adanya perantara itulah yang disebut Nabi, yang padanya terdapat puncak tingkat-tingkat keunggulan dalam lingkungan bentuk-bentuk material, dan nabi berdiri di atas semua jenis wujud yang diunggulinya serta menguasai mereka.
Sedangkan Ibnu ‘Arabī ( 1164 – 1240 M), memandang kenabian sebagai derajat makrifat yang membuat dia dapat memahami hubungan yang jelas antara Tuhan (Realitas) yang dihadapinya dengan manifestasi, dan menyadari kesatuan esensialnya dengan realitas Tunggal. Dalam pengertian paling luas, mereka mewarisi pengetahuan karena telah merupakan bagian dalam kenabian mereka (yakni pengetahuan esoterik) yang berasal dari Ruh Muhammad.
Wakil sebenarnya (khalīfah) dari Tuhan adalah Ruh Muhammad yang terus-menerus memanifestasikan dirinya dalam bentuk-bentuk nabi atau santo-santo, yakni kelas manusia yang termasuk dalam kateori manusia sempurna, yang masing-masing dapat disebut sebagai khalīfah. Kini, oleh karena kerasulan dan kenabian itu telah berakhir, ke-khalīfah-an umum sajalah yang tinggal dan telah menjadi warisan eksklusif dari santo-santo muslim yang juga merupakan pengikut-pengikut dari hukum Muhammad.
Dalam karyanya yang berjudul Javid Namah, Muhammad Iqbal menggambarkan bagaimana besarnya pengaruh penciptaan manusia terhadap kehidupan bumi yang pada awalnya hanya menjadi cibiran dan makian kehidupan langit. Namun demikian keberadaan manusia tidaklah memiliki arti tanpa adanya kehendak untuk selalu tampil. Menurutnya eksistensi ialah hasrat untuk menjelmakan diri. Hidup berarti kemauan untuk untuk membuktikan bahwa diri ini ada. Bentuk yang paling nyata dari pernyataan wujud ini terdapat dalam peristiwa mi'raj. Yakni sebuah hasrat mencari bukti serta kesaksian untuk mengukuhkan wujud.
Tanpa kesaksian itu, wujud kita tidak lain bagai warna dan aroma pada setangkai bunga. Tidak ada satupun yang dapat tegak dihadapan-Nya. Tapi yang mampu bertahan, ia bagai emas murni. Jangan sia-siakan, walau sejumput kecilpun, cahaya yang kau miliki.....hanya wujud yang hidup sajalah yang patut beroleh sanjungan, sebab jika tidak, nyala api wujud tidak lain daripada asap belaka.

Selanjutnya terkait dengan mandat kenabian, Iqbal mengatakan bahwa karena nabi telah diutus sebagai Rahmatan li al-'Alamīn (sebagai rahmat bagi alam semesta), maka penganut nabi juga tentulah perwujudan rahmat bagi masyarakat dunia. Dunia telah diciptakan demi dia dan dia harus bertindak di dalamnya, jika ini berlaku bagi individu muslim, tentunya hal itu juga berlaku bagi masyarakat beriman yang ideal yang menggantikan nabi. Finalitas kenabian berarti sekaligus membuka jalan-jalan baru dalam penelitian dan pandangan-pandangan ilmiah sebagai proses manusia untuk selalu berusaha mencapai tahap kesempurnaan pribadi.





B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang sebagaimana telah diulas di atas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pandangan Muhammad Iqbal tentang kesadaran mistik dan kesadaran profetik ?
2. Bagaimana relasi antara kesadaran mistik dan kesaradan profetik dengan konsepsi khudī (filsafat Ego) Muhammad Iqbal

C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dari penulisan ini adalah berupa deskripsi tentang pemikiran Muhammad Iqbal khususnya kajian yang lebih mendalam tentang perbedaan, hubungan dan korelasi antara kesadaran profetik dan kesadaran mistik. Adapun lebih jauh deskripsi yang diharapkan adalah :
1. Mengetahui dan memahami bagaimana pandangan Muhammad Iqbal tentang makna kesadaran profetik dan kesadaran mistik.
2. Mengetahui dan memahami relasi antara kesadaran profetik dan kesadaran mistik dengan konsepsi khudī (filsafat Ego) Muhammad Iqbal.
Selanjutnya, penulisan skripsi ini diharapkan memiliki nilai guna bagi proses pengembangan keilmuan terutama berkenaan dengan kajian pemikiran Muhammad Iqbal secara khusus dan pengembangan pemikiran filsafat Islam secara umum. Disamping juga, secara praksis, penulisan skripsi ini diajukan sebagai syarat menyelesaikan studi strata satu pada jurusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta.
D. Kajian Pustaka
Sebagai filosof sekaligus penyair yang telah memberikan kontribusi besar atas kajian dan gerakan pemikiran Islam, karya-karya dan tulisan yang mengangkat. Muhammad Iqbal tak terbilang jumlahnya. Baik yang mengapresiasi karya puisinya, pemikiran Islamnya, filsafatnya, maupun penerjemahan karya-karyanya dalam berbagai bahasa.
Salah satu karya intelektual yang mengkaji secara mendalam karya puisinya adalah berjudul Iqbal; Sirātuh wa Falsafātuh wa Syi’ruh, karangan ‘Abdul Wahhab ‘Azzam yang diterbitkan pertama kali di Pakistan pada tahun 1954. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Filsafat dan Puisi Iqbal oleh Ahmad Rofi’ Usman yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka, Bandung: 1985. Karya ini dimulai dengan membahas kehidupan penyair-filosof Iqbal sejak kelahirannya sampai perjalanan karir dan berbagai karya-karya Iqbal. Sebagai seorang yang sangat dekat secara pemikiran dan fisik dengan Iqbal, penulis dengan penuh semangat berhasil memberikan gambaran yang sangat utuh tentang sosok pemikir muslim Muhammaq Iqbal. Dalam pengantarnya dia menjelaskan bagaimana gairah dan semangat Iqbal dalam mengobarkan api-api perjuangan bagi kebangkitan generasi muda yang saat itu mengalami kelemahan gerak dan terbuai oleh materialisme barat.


Sedangkan karya yang mengupas tentang pemikirannya adalah MM. Syarif, berjudul Muhammad Iqbal tentang Tuhan dan Keindahan, terjemahan Yusuf Jamil, Mizan, 1984. Karya ini lebih banyak mengupas tentang filsafat Iqbal, terutama yang terkait dengan konsepsi ketuhanan dan keindahan, serta pembahasan yang cukup singkat tentang seni. Untuk mempermudah memetakan pemikiran Iqbal, penulis mencoba mengelompokkan tahapan perkembangan pemikiran Iqbal ke dalam tiga periode. Yakni; periode pertama, antara tahun 1901 – 1908. dalam masa ini, menurut penulis, pemikiran Iqbal tentang Tuhan dan keindahan lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran Platonis. Lalu periode kedua, yakni antara tahun 1908 – 1920 yang mulai munculnya pemikiran Iqbal tentang keindahan dan cinta, serta periode ketiga antara tahun 1930 -1938 yang merupakan puncak filsafat diri (Ego)-nya.
Sementara itu, karya yang juga banyak mengupas filsafat Muhammad Iqbal adalah tulisan ‘Abdul Haleem Hilal, Social Philosophy of Sir Muhammad Iqbal (Delhi, India: Chitli Qabar, 1995). Selain mengupas berbagai pemikiran Iqbal, karya ini lebih dititik beratkan pada konsepsi Iqbal tentang Khudī (pribadi). Yakni Pribadi yang bergerak aktif dalam peran social masyarakat. Masyarakat adalah sebuah kumpulan individu-individu. Namun tidak sebagai kumpulan yang saling terpisah, akan tetapi merupakan satu kesatuan secara keseluruhan. Dalam keseluruhan itu bagian yang lain tidak dapat hidup dan berkembang tanpa sebagian yang lain.
Masyarakat adalah ibarat organ tubuh yang masing-masing bagiannya memiliki peran yang sangat signifikan dalam tumbuh dan berkembang bersama. Tanpa adanya individu-individu yang sadar akan peran sosialnya masing-masing keberlangsungan hidup masyarakat akan mengalami goncangan negatif dan disharmoni.
Disamping karya-karya tersebut ada beberapa karya skripsi maupun tesis yang juga mengangkat pemikiran Muhammad Iqbal. Diantaranya adalah tulisan Dhian Kusumaratri, yang lebih menekankan pada perbandingan konsepsi mistik antara Muhammad Iqbal dengan William James. Selain itu ada juga skripsi Ahmad Maulana, yang melakukan kajian tentang eksistensi manusia menurut Muhammad Iqbal, serta tesis karya Lukman S. Thahir yang membahas liberalisme Islam dalam pemikiran Iqbal.
Sebagai pemikir yang sepanjang sejarah pemikiran Islam memiliki kontribusi yang besar, usaha untuk mengenal pribadi Iqbal tentu harus lebih banyak dan lebih mendalam melalui berbagai penelitian yang dilakukan untuk menggali terus-menerus pemikir besar ini. Dari beberapa karya di atas, sekalipun hampir semuanya bertolak pada konsepsi pribadi manurut Iqbal, serta relasi antara ego dan super-Ego, namun belum memberikan penjelasan lebih lengkap bagaimana bagaimana Iqbal memberikan penjelasan tentang kesadaran profetik dan kesadaran mistik. Sebab kedua kesadaran ini dalam pengalaman keagamaan manusia memiliki ciri dan identifikasi yang sangat berbeda.

E. Metodologi Penelitian
Sebagaimana ilmu-ilmu yang lain, disiplin ilmu filsafat juga memiliki metode khusus untuk penelitian. Oleh karena itu pendekatan filosofis merupakan corak atau tipologi yang paling menonjol dalam kajian pemikiran Iqbal terkait bahasan yang diangkat dalam penelitian kali ini, yakni tentang kesadaran profetik dan kesadaran mistik. Dalam penelitian ini karya – karya Muhammad Iqbal tidak dipandang atau diteliti menurut nilai sastra, atau menurut arti politis dan budaya, tapi dipandang atau diteliti sebagai naskah filsafat yakni sejauh nama makna dan visi filosofis yang dikandungnya.
Melihat latar belakang masalah yang diangkat, penelitian ini sepenuhnya merupakan penelitian kepustakaan/studi pustaka (Library Research), yaitu sebuah penelitian yang memfokuskan penelitiannya dengan menggunakan data dan informasi dari berbagai macam literatur baik berupa buku-buku, majalah, naskah-naskah, catatan-catatan, kisah sejarah dan lain-lain.
Sementara itu dalam penelitian ini, untuk mempermudah pembahasan serta sebagai syarat ilmiah yang diharapkan mampu menyintuh persoalah secara lebih mendalam dan untuk meminimalisir terjadinya distorsi pemikiran, penulisan ini menggunakan metode-metode sebagai berikut :
1. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan sesuatu yang sangat penting dalam penelitian ilmiah. Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, sebagai penelitian yang sepenuhnya merupakan penelitian kepustakaan/studi pustaka (Library Research), pengumpulan data terutama difokuskan pada data dan informasi dari berbagai macam literatur baik berupa buku-buku, majalah, naskah-naskah, catatan-catatan, kisah sejarah dan lain-lain yang terkait dengan pemikiran Muhammad Iqbal terutama yang berkaitan dengan konsepsi kesadaran profetik dan kesadaran mistik. Adapun sumber-sumber data tersebut dapat berupa data primer maupun data sekunder. Sebagai sumber data utama atau data primer dalam penelitian ini, penulis mengambil tulisan-tulisan yang secara langsung ditulis oleh Iqbal sendiri, diantaranya adalah :
a. The Development of Metaphysic in Persia, yang ditulisnya di London pada tahun 1908. Karya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Indonesia buku ini diterjemahkan oleh Juba’ Ayyoub, dengan judul Metafisika Persia; Sebuah Sumbangan Untuk Sejarah Filsafat Islam, yang diterbitkan oleh Mizan pada tahun 1990.
b. The Reconstructions of Religious Thought in Islam, yang ditulisnya pada tahun 1930, namun baru diterbitkan di London oleh Oxford University Press, tahun 1934. Karya ini merupakan buah pemikiran filsafat terbesarnya yang dapat disebut sebagai akumulasi dari hampir semua pemikiran Iqbal. Karya yang lebih bernuansa skolastik ini telah diterjemahkan oleh Ali Audah dan kawan kawan di Jakarta oleh penerbit Tintamas pada tahun 1982, yang diberi judul Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam yang pada tahun 2002 kemudian disunting oleh Muhidin M. Dahlan melalui penerbit Jalasutra Jogjakarta.
c. Javid Nama, Lahore 1932. Dialihbahasakan oleh M. Sadikin (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987) dengan judul Javid Nama (Kitab Keabadian)
d. Islam and Ahmadanism; repley to Questions Raised by Pandit Jawaharlal Nehru, Lahore, January 22, 1936. Dialihbahasakan oleh Machmun Husein (Jakarta: Bumi Aksara, 1991) dengan judul Islam dan Ahmadiyah
Untuk mendukung hasil penelitian yang optimal, selain data primer penulis juga menggunakan data skunder, yakni berbagai tulisan baik buku maupun artikel yang terkait dengan sejarah kehidupan, pemikiran dan perjuangan Iqbal, atau beberapa buku yang terkait dengan pembahasan penulis tentang kesadaran profetik dan kesadaran mistik.
2. Metode Pengolahan Data
Agar keseluruhan data tersebut, baik data primer maupun data skunder dapat dipaparkan dengan baik, penulis menggunakan metode pengolahan data sebagai berikut :
a. Metode Diskripsi
Yaitu uraian yang dihadirkan peneliti dengan cara teratur menganai keseluruhan konsepsi pemikiran seorang tokoh. Dengan menggunakan metode ini diusahakan dapat menggambarkan secara keseluruhan pemikiran Muhammad Iqbal terutama tentang kesadaran profetik dan mistik.

b. Metode Analisis
Dalam filsafat, analisa berarti perincian istilah-istilah atau ungkapan-ungkapan ke dalam bagian-bagiannya sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan pemeriksaan atas makna yang dikandungnya. Dengan metode ini penulis akan mencoba secara maksimal melakukan pemeriksaan secara konseptual atas makna yang dikandung oleh istilah-istilah yang terdapat dalam pemikiran Muhammad Iqbal, sehingga dapat memperoleh substansi makna yang dimaksud dalam konsepsi pemikiran tersebut.

c. Metode Intepretasi
Adalah menyelami karya seorang tokoh untuk memperoleh arti dan nuansa yang dimaksud oleh tokoh tersebut dengan cara yang khas. Melalui metode ini, karya-karya Muhammad Iqbal akan diselami untuk mendapatkan arti dan nuansanya, kemudian diangkat menjadi satu konsepsi pemikiran Iqbal tentang kesadaran profetik dan mistik. Bahaya paling besar sebuah interpretasi adalah kemungkinan terjadinya salah interpretasi atau salah baca. Namun kemungkinan ini akan coba diminimalisir dengan menilik sebanyak mungkin data dan informasi menyangkut pemikiran filosofis yang sekaligus penyair ini.

F. Sistematika Penulisan
Pembahasan yang runtut dan sistemasis merupakan syarat bagi sebuah karya tulis agar mudah dipahami. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
Bab I, sebagai bab pendahuluan berisi latar belakang masalah mengapa penulis memilih judul ini. Yang kemudian secara runtut dilanjutkan dengan rumusan masalah, kegunaan tulisan, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang sosok pemikir sekaligus penyair ini, dalam bab II penulis akan mencoba menjelaskan bagaimana hidup dan pemikiran serta karya-karya Muhammad Iqbal. Dengan pemaparan ini penulis bermaksud memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sosok Muhammad Iqbal. Dalam bab II, penulis juga memberikan pemaparan singkat tentang corak pemikiran Iqbal yang menurut penulis termasuk penganut eksistensialisme, namun bercorak khas transendental.
Bab III, akan membahas tentang kesadaran profetik dan kesadaran mistik. Untuk lebih memahami tentang kesadaran mistik dan kesadaran profetik, dalam bab ini diketengahkan beberapa pemikiran filosof-filosof Islam tentang profetik (filsafat kenabian) dan mistik (tasawuf) secara umum, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang makna kesadaran menurut Muhammad Iqbal. Selanjutnya untuk melakukan pemaparan lebih jauh tentang kesadaran profetik dan kesadaran mistik, dalam bab ini juga akan diuraikan bagaimana konsepsi keduanya menurut Muhammad Iqbal. Sementara filsafaf Ego (Khudī) sebagai ciri khas filsafat Iqbal nantinya akan menjadi titik pijak pembahasan selanjutnya.
Pada bab VI, sebagai kelanjutan bab sebelumnya penulis mencoba memulai kajian lebih mendalam (terfokus), tentang filsafat Ego menurut Iqbal, lalu dilanjutkan dengan analisis yang menyangkut relasi ego dalam kesadaran profetik dan mistik, yakni bagaimana ego dalam kesadaran profetik, serta bagaimana pula ego dalam kesadaran mistik. Bab ini juga akan sedikit menyinggung bagaimana hubungan antara pribadi/individu dan masyarakat, hal ini dimaksudkan untuk memberikan sedikit gambaran tentang posisi pribadi yang ideal—sesuai dengan filsafat Ego tersebut—dalam masyarakat.
Sebagai bab penutup, pada bab V, penulis akan memberikan kesimpulan dari seluruh isi penelitian, sekaligus sedapat mungkin memberikan jawaban atas rumusan masalah yang ada. Bab ini juga berisi saran-saran dan masukan untuk penelitian lebih lanjut.